Hari itu PPSM tampak ramai, ayat alqur’an menggema di
sela-sela kesibukan pesantren. Aktifitas sekolah berjalan lancar namun ada
beberapa tamu datang yang di dominasi kaum hawa, lebih tepatnya ibu-ibu. Ya
pada waktu itu tepat 100 harinya Al-marhum KH. Moh. Ihya’ Ulumuddin, sang
muassis PPSM. Beberapa saat kemudian kegiatan sekolah & pengajian Al-qur’an
usai, tamu-tamu pun berubah, yang tadinya kaum ibu namun sekarang kaum adam
yang datang yakni bapak-bapak yang telah di undang. mereka berbondong-bondong
datang ke PPSM untuk mengikuti pembacaan yasin dan tahlil di kediaman pengasuh
PPSM.
Area halaman PPSM di penuhi oleh sepeda motor yang tak lain
adalah kendaraan para undangan, di tengah tampak mobil Avanza warna biru langit
yang tak lain adalah kendaraan seorang ulama’ yakni Al-habib Hasan bin Isma’il
Al-mukhdlor yang turut datang memenuhi undangan dari pengasuh PPSM sekaligus
memberikan ceramah agama dalam acara tersebut.
Dalam ceramahnya Al-habib menjelaskan sebuah maqolah dari
Sayyidina Ali RA. “Annasu niyamu, idza maatuu intabahuu” manusia pada
hakikatnya sedang tidur, apabila manusia itu meninggal maka dia bangun. Jadi
pada hakikatnya kita sekarang sedang tidur, nanti apabila kita telah meninggal
dunia maka kita bangun.
Kenapa sayyidina Ali RA berkata demikian?? Karena sewaktu
kita masih di dunia (hidup) kita diperintah untuk melakukan ketaatan (sholat,
zakat, puasa & haji) dan di larang melakukan keburukan (zina, minum khomer
dll). sedangkan kita tidak tahu pahala yang kita dapatkan dari ketaatan yang kita
lakukan, sebaliknya kita tidak tahu dosa/siksa yang kita dapatkan dari
keburukan yang kita lakukan. Ibarat orang yang tidur, coba kita puji orang yang
tidur atau kita caci, maka mereka tidak akan bereaksi apa-apa.
Begitu juga dengan kita sekarang, walaupun telah tertulis
dalam al-qur’an dan hadits bahkan para ulama’ setiap saat berceramah
memperingati kita bahwasanya pahala ketaatan kita banyak dan akan berbuah
surga, namun kenapa kita tetap tidak meningkatkan kadar ibadah kita??.
Disamping itu dalam Al-qur’an dan hadits bahkan para ulama’ selalu memperingati
kita agar menjauhi kemaksiatan, karena adzab Allah sangat pedih dan akan
berujung masuk Neraka, namun hingga detik ini kenapa kita masih doyan
bermaksiat?? Jawabannya kembali kepada maqolah sayyidina Ali yakni karena
sekarang kita sedang tidur. Nanti setelah kita mati kita akan tahu dan sadar
akan segala perbuatan kita.
Coba bayangkan seandainya sekarang apabila kita sholat
berjama’ah kita langsung mendapatkan balasannya, uang tunai 200.000 misalnya,
pasti semua masjid penuh, semua orang akan berebut untuk sholat berjamaah guna
mendapatkan uang tunai 200.000 rupiah. Begitu juga apabila kita bermaksiat,
misalnya kita menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom kemudian tangan kita
putus, maka pasti tidak akan ada orang yang berani sentuh-sentuhan apalagi
sampai berzina.
Namun kenapa Allah menangguhkan pahala bagi yang berbuat
baik dan siksa bagi yang melanggar??
Jawabannya ada pada surat Al-Mulk “alladzi kholaqol mauta
wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu amala” dari ayat itu ada kata
Liyabluwakum yang bermakna untuk menguji kalian siapakah diantara kalian yang
paling bagus amalnya? Dan bisa bermakna menguji keimanan kita, sudah berimankah kita? ? jika kita beriman, sudahkah kita mengerjakan
ketaatan dan menjauhi larangan?? Wallahu A’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar