Jurus Jacki chan di
pesantren
Pesantren adalah wadah untuk menimba
ilmu sebanyak-banyaknya, utamanya ilmu agama, disamping itu, pesantren merupakan
tempat multi kegiatan, maksudnya semua kegiatan ada di pesantren, seperti
kegiatan ta’lim dan ubudiyah, ta’lim adalah kegiatan ke ilmuan yang berupa
ngaji kitab/sorogan ataupun sekolah formal dan diniyah.
Sedangkan ubudiyah
merupakan kegiatan ke ibadahan yakni sholat berjama’ah, istighosah, tahlilan
dll.
Di sebuah desa ada pondok kecil yang
santrinya hanya kisaran 150 orang, dengan rincian putri 110 orang, putra 40
orang, kegiatan di pondok tersebut awalnya sangat aktif, khusunya santri putra;
jam 03.45 semua santri telah beranjak dari tempat tidurnya & going to bath
room (kamar mandi), selanjutnya bergegas ke musholla untuk sholat subuh
berjama’ah, semua santri ikut berjama’ah, tidak ada seorang santripun yang absen
alias tidak ikut berjamaah.
Beberapa bulan berikutnya, santri
yang berjama’ah subuh berkurang, dan terus berkurang sampai hanya tinggal 1 shof
saja. Saat itu ketua pondok sedih melihat penurunan semangat berjama’ah subuh
para santri. Sehingga sang ketua mencari penyebab penurunan tersebut, setelah
mengadakan interview dengan salah satu santri, ternyata mayoritas santri tidak
kuat dengan rasa kantuk, karena malamnya begadang sampai jam 02.00.
Setelah mengetahui titik
permasalahannya, sang ketua mengambil langkah, yakni menasehati mereka, tiap hari
sang ketua menasehati lewat pengajian, halaqoh-halaqoh maupun di saat nyantai. Langkah sang ketua tersebut membuahkan sedikit hasil. Sebagian santri yang
awalnya malas berjamaah, kini telah kembali aktif berjama’ah, hanya tinggal
beberapa santri yang masih belum berjama’ah.
Sang ketua kemudian mengambil
langkah yang ke 2, yaitu membangunkan santri sejak sebelum adzan subuh
berkumandang. Semua santri yang di bangunin langsung bangun dan langsung ke
tempat wudlu’, hanya tinggal 4 orang yang masih setengah bangun, maksudnya duduk
tapi matanya merem, sang ketua merayu mereka agar langsung ke tempat wudlu’
tapi mereka dengan setengah sadar menjawab “Engghi marenah cak (ia bentar lagi kak)” sang ketua
menjawab “jegheh onggu lhe mon ta’ jegheh eteretah marena bi’ kuleh (bener bangun lho ya, kalau nggak nanti ta' seret ma aku)” ancam sang
ketua.
Suara
iqomah berkumandang, sang ketua langsung beranjak ke musholla, sedangkan 4 orang
tadi back to selimut mereka, alias turu lagi, imam di musholla bertakbir di
ikuti oleh para jama’ah. selesai salam, sang ketua melihat satu persatu santri
yang berjama’ah, ternyata yang 4 orang tadi tidak tampak batang hidungnya, alias
tidak berjama’ah, melihat hal itu, sang ketua berkomat kamit mempercepat
wiridannya dan langsung beranjak dari musholla menuju kamar 4 orang tadi, dan
ternyata 4 orang tersebut masih tidur.Dengan sedikit marah, sang ketua mengambil sajadahnya, lalu di pukulkan ke area kepala 4 santri tersebut dengan menggunakan jurus Jacki chan. Dan Alhamdulillah, dengan jurus Jacki chan 4 orang tersebut langsung beranjak ke tempat wudlu’ lalu sholat subuh.
Hehe ternyata jurus Jacki Chan tersebut sangat manjur, gumam sang ketua, Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar