Minggu, 11 Mei 2014

Jurus Jacki Chan di pesantren



Jurus Jacki chan di pesantren

            Pesantren adalah wadah untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya, utamanya ilmu agama, disamping itu, pesantren merupakan tempat multi kegiatan, maksudnya semua kegiatan ada di pesantren, seperti kegiatan ta’lim dan ubudiyah, ta’lim adalah kegiatan ke ilmuan yang berupa ngaji kitab/sorogan ataupun sekolah formal dan diniyah.
Sedangkan ubudiyah merupakan kegiatan ke ibadahan yakni sholat berjama’ah, istighosah, tahlilan dll.

            Di sebuah desa ada pondok kecil yang santrinya hanya kisaran 150 orang, dengan rincian putri 110 orang, putra 40 orang, kegiatan di pondok tersebut awalnya sangat aktif, khusunya santri putra; jam 03.45 semua santri telah beranjak dari tempat tidurnya & going to bath room (kamar mandi), selanjutnya bergegas ke musholla untuk sholat subuh berjama’ah, semua santri ikut berjama’ah, tidak ada seorang santripun yang absen alias tidak ikut berjamaah.
            Beberapa bulan berikutnya, santri yang berjama’ah subuh berkurang, dan terus berkurang sampai hanya tinggal 1 shof saja. Saat itu ketua pondok sedih melihat penurunan semangat berjama’ah subuh para santri. Sehingga sang ketua mencari penyebab penurunan tersebut, setelah mengadakan interview dengan salah satu santri, ternyata mayoritas santri tidak kuat dengan rasa kantuk, karena malamnya begadang sampai jam 02.00.
            Setelah mengetahui titik permasalahannya, sang ketua mengambil langkah, yakni menasehati mereka, tiap hari sang ketua menasehati lewat pengajian, halaqoh-halaqoh maupun di saat nyantai. Langkah sang ketua tersebut membuahkan sedikit hasil. Sebagian santri yang awalnya malas berjamaah, kini telah kembali aktif berjama’ah, hanya tinggal beberapa santri yang masih belum berjama’ah.
            Sang ketua kemudian mengambil langkah yang ke 2, yaitu membangunkan santri sejak sebelum adzan subuh berkumandang. Semua santri yang di bangunin langsung bangun dan langsung ke tempat wudlu’, hanya tinggal 4 orang yang masih setengah bangun, maksudnya duduk tapi matanya merem, sang ketua merayu mereka agar langsung ke tempat wudlu’ tapi mereka dengan setengah sadar menjawab “Engghi marenah cak (ia bentar lagi kak)” sang ketua menjawab “jegheh onggu lhe mon ta’ jegheh eteretah marena bi’ kuleh (bener bangun lho ya, kalau nggak nanti ta' seret ma aku)” ancam sang ketua. 
            Suara iqomah berkumandang, sang ketua langsung beranjak ke musholla, sedangkan 4 orang tadi back to selimut mereka, alias turu lagi, imam di musholla bertakbir di ikuti oleh para jama’ah. selesai salam, sang ketua melihat satu persatu santri yang berjama’ah, ternyata yang 4 orang tadi tidak tampak batang hidungnya, alias tidak berjama’ah, melihat hal itu, sang ketua berkomat kamit mempercepat wiridannya dan langsung beranjak dari musholla menuju kamar 4 orang tadi, dan ternyata 4 orang tersebut masih tidur.

 Dengan sedikit marah, sang ketua mengambil sajadahnya, lalu di pukulkan ke area kepala 4 santri tersebut dengan menggunakan jurus Jacki chan. Dan Alhamdulillah, dengan jurus Jacki chan  4 orang tersebut langsung beranjak ke tempat wudlu’ lalu sholat subuh. 

Hehe ternyata jurus Jacki Chan tersebut sangat manjur, gumam sang ketua,  Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar