Minggu, 11 Mei 2014

Man Jadda Wajada



MAN JADDA WAJADA

            Artikel ini di petik dari sebuah novel yang berjudul Negeri 5 Menara, sebuah kisah nyata dari penulisnya yakni A. Fuadi. Beliau menulis kisah kehidupan seorang anak dari kampong dekat danau mininjau daerah Bukittinggi Sumatra barat, alif adalah pemeran utama dalam novel tersebut, seorang anak yang sangat cerdas dan selalu berprestasi di masa MTs nya, setelah lulus dia berniat untuk masuk sekolah SMA terbaik di daerahnya, dia sudah merasa cukup belajar ilmu agama di MTs dan keinginannya ialah merubah haluan yakni konsen dengan ilmu umum di SMA impiannya, supaya bisa menjadi seperti Habibie tokoh idolanya.

            Suatu hari alif tersenyum karena nilai akhirnya baik dan bisa menjadi tiket tuk masuk ke sekolah impiannya SMA terbaik di Bukittinggi, namun impiannya pupus bersamaan dengan keinginan sang amaknya (ibu) tuk menyekolahkan anaknya yakni alif di pondok pesantren, sesuai dengan keinginannya agar punya anak ahli ilmu agama seperti Buya HAMKA sang Ulama’ sekaligus Pemikir Besar era 1908-1981 an yang menguasai berbgai fan ilmu dan mencerahkan agama islam dengan buah tangannya diantaranya : Tafsir Al-Azhar 30 juz (Tafsir Qur’an), Tasawuf Modern dll (Tasawuf), Sejarah Umat Islam dll (Sejarah), Falsafah Hidup (Filsafat), Dibawah Lindungan ka’bah dll (Sastra), sang amak menginginkan anaknya yang cerdas tersebut menjadi bibit yang bagus tuk menjadi penegak agama islam. 
            Dengan keputusan setengah hati alif mau belajar di pesantren, namun bukan di daerahnya melainkan di daerah yang sangat jauh yakni pondok Madani Ponorogo Jawa Timur, sesuai dengan permintaan pamannya yang telah lulus dari pondok tersebut dan meneruskan studinya di kairo Mesir.
            Masih dalam pikiran ragu, kecewa dan bingung Alif berangkat ke pondok Madani di temani ayahnya, setelah tiga hari di perjalanan akhirnya alif sampai di pondok Madani. sebuah pondok berbasis modern, memiliki system pendidikan 24 jam, tujuan pendidikannya mencetak manusia mandiri, sebuah pondok yang tren dengan disiplin segalanya, disiplin bahasa Arab & Inggris Full time, disiplin waktu, so ga’da waktu nyantai yang ada hanya studi, diskusi, muhadlarah, olahraga dan terus berkarya, 

Pondok tersebut super ketat, pelanggaran ringan seperti telat mengikuti kegiatan/ lupa memakai papan nama/ pake’ sarung waktu tidur/ tidak pakek ikat pinggang/ tidak berbahasa arab atau Inggris/ mendahului teman waktu antri mandi/ ghosab dll pelakunya di panggil ke kantor keamanan dan di suruh menjadi jesus (Bahasa Arab), berarti mata-mata, maksudnya di tugasi untuk mencari santri lain di pondok tersebut yang melanggar aturan, sedangkan pelanggaran berat seperti : Berkelahi, Pacaran,Mencuri dll pelakunya akan di gundul hatta di keluarkan dengan tidak terhormat.  
            Dua hari alif berada di pondok Madani sudah harus menjadi jesus, karena terlambat ke masjid. Tidak hanya alif, tapi ada lima anak lagi yang juga di tindak, yakni Raja dari Medan, Atang dari Bandung, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep dan Baso dari Gowa, akhirnya mereka menjadi teman akrab dan sejak saat itu mereka selalu bersama, baik waktu sekolah, belajar, olah raga, hafalan, diskusi dan selalu menghabiskan waktu senggang di bawah menara masjid. sehingga enam sahabat ini dijuluki Shohibul Menara (yang punya Menara).

 Suatu hari mereka terpukau dengan mantra arab yakni "MAN JADDA WAJADA", kalimat ini di ulang-ulang dengan lantang oleh wali kelasnya, sehingga kalimat ini merasuk ke seluruh penjuru badan mereka dan mendarah daging. Sore harinya, sambil menunggu waktu maghrib, seperti biasa dibawah menara masjid. Mereka menatap awan lembayung yang bergerak ke ufuk, Awan-awan itu menjelma menjadi Negara dan benua impian masing-masing, Amerika (menurut Alif), Inggris/Eropa (menurut Raja), Mesir/Afrika (menurut Atang), Arab Saudi/Asia (menurut Baso), tetap Indonesia (menurut Said & Dulmajid), kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu, yang mereka tahu adalah jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun, Tuhan sungguh Maha Mendengar
            Empat tahun mereka belajar di Pondok Madani dan berbagai prestasi telah mereka torehkan di pondok tersebut. Sehingga mereka menjadi lulusan yang handal. Setelah lulus dan berpamitan mereka para shohibul menara (Alif,Raja,Atang,Baso,Said & Dulmajid) pulang kerumah masing-masing dengan membawa beragam ilmu pengetahuan di jiwanya.
            Setelah selang 11 tahun, kini Alif menjelma sebagai wartawan TEMPO dan berkantor di Washington DC Amerika, Raja melanjutkan studi S2 nya di London Inggris, Atang telah 8 tahun menuntut ilmu di Kairo Mesir dan menjadi Mahasiswa Program Doktor di Al-Azhar, Baso si Hafidz mendapat Beasiswa penuh dari Pemerintah Arab Saudi, sedangkan Said dan Dulmajid berbisnis batik dan Merintis Pondok Berbasis PM (Pondok Madani) di Surabaya, kini setelah 11 tahun silam mereka JADDA (Ber sungguh-sungguh) di Pondok akhirnya mereka WAJADA (Mendapatkan) Impian mereka, 6 Sahabat (Shohibul Menara) berada di Lima Negara Berbeda sesuai dengan impian mereka tidak ada yang luput, Sungguh Allah Maha Mendengar kata hati HambaNya. 
            Sengaja kami menulis artikel ini untuk menginspirasi semua pembaca, santri PPSM khususnya untuk tidak takut bermimpi seperti shohibul Menara dalam petikan Novel di atas, dari itu mari sejak saat ini kita bercita-cita dan berusaha keras untuk bisa sukses mencapai semua impian kita Insya Allah dengan modal MAN JADDA WAJADA  kita semua akan termotivasi terus sehingga kita bisa mencapai cita-cita kita Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar