MAN
JADDA WAJADA
Artikel ini di petik dari sebuah
novel yang berjudul Negeri 5 Menara, sebuah kisah nyata dari penulisnya yakni A.
Fuadi. Beliau menulis kisah kehidupan seorang anak dari kampong dekat danau
mininjau daerah Bukittinggi Sumatra barat, alif adalah pemeran utama dalam
novel tersebut, seorang anak yang sangat cerdas dan selalu berprestasi di masa
MTs nya, setelah lulus dia berniat untuk masuk sekolah SMA terbaik di daerahnya,
dia sudah merasa cukup belajar ilmu agama di MTs dan keinginannya ialah merubah
haluan yakni konsen dengan ilmu umum di SMA impiannya, supaya bisa menjadi
seperti Habibie tokoh idolanya.
Suatu hari alif tersenyum karena
nilai akhirnya baik dan bisa menjadi tiket tuk masuk ke sekolah impiannya SMA
terbaik di Bukittinggi, namun impiannya pupus bersamaan dengan keinginan sang
amaknya (ibu) tuk menyekolahkan anaknya yakni alif di pondok pesantren, sesuai
dengan keinginannya agar punya anak ahli ilmu agama seperti Buya HAMKA sang
Ulama’ sekaligus Pemikir Besar era 1908-1981 an yang menguasai berbgai fan ilmu
dan mencerahkan agama islam dengan buah tangannya diantaranya : Tafsir Al-Azhar
30 juz (Tafsir Qur’an), Tasawuf Modern dll (Tasawuf), Sejarah Umat Islam dll
(Sejarah), Falsafah Hidup (Filsafat), Dibawah Lindungan ka’bah dll (Sastra),
sang amak menginginkan anaknya yang cerdas tersebut menjadi bibit yang bagus
tuk menjadi penegak agama islam.
Dengan keputusan setengah hati alif
mau belajar di pesantren, namun bukan di daerahnya melainkan di daerah yang
sangat jauh yakni pondok Madani Ponorogo Jawa Timur, sesuai dengan permintaan
pamannya yang telah lulus dari pondok tersebut dan meneruskan studinya di kairo
Mesir.
Masih dalam pikiran ragu, kecewa dan
bingung Alif berangkat ke pondok Madani di temani ayahnya, setelah tiga hari di
perjalanan akhirnya alif sampai di pondok Madani. sebuah pondok berbasis modern, memiliki
system pendidikan 24 jam, tujuan pendidikannya mencetak manusia mandiri, sebuah
pondok yang tren dengan disiplin segalanya, disiplin bahasa Arab & Inggris
Full time, disiplin waktu, so ga’da waktu nyantai yang ada hanya studi, diskusi,
muhadlarah, olahraga dan terus berkarya,
Pondok tersebut super ketat, pelanggaran ringan seperti telat mengikuti kegiatan/ lupa memakai papan nama/ pake’ sarung waktu tidur/ tidak pakek ikat pinggang/ tidak berbahasa arab atau Inggris/ mendahului teman waktu antri mandi/ ghosab dll pelakunya di panggil ke kantor keamanan dan di suruh menjadi jesus (Bahasa Arab), berarti mata-mata, maksudnya di tugasi untuk mencari santri lain di pondok tersebut yang melanggar aturan, sedangkan pelanggaran berat seperti : Berkelahi, Pacaran,Mencuri dll pelakunya akan di gundul hatta di keluarkan dengan tidak terhormat.
Pondok tersebut super ketat, pelanggaran ringan seperti telat mengikuti kegiatan/ lupa memakai papan nama/ pake’ sarung waktu tidur/ tidak pakek ikat pinggang/ tidak berbahasa arab atau Inggris/ mendahului teman waktu antri mandi/ ghosab dll pelakunya di panggil ke kantor keamanan dan di suruh menjadi jesus (Bahasa Arab), berarti mata-mata, maksudnya di tugasi untuk mencari santri lain di pondok tersebut yang melanggar aturan, sedangkan pelanggaran berat seperti : Berkelahi, Pacaran,Mencuri dll pelakunya akan di gundul hatta di keluarkan dengan tidak terhormat.
Dua hari alif berada di pondok
Madani sudah harus menjadi jesus, karena terlambat ke masjid. Tidak hanya alif,
tapi ada lima anak lagi yang juga di tindak, yakni Raja dari Medan, Atang dari
Bandung, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep dan Baso dari Gowa, akhirnya
mereka menjadi teman akrab dan sejak saat itu mereka selalu bersama, baik waktu
sekolah, belajar, olah raga, hafalan, diskusi dan selalu menghabiskan waktu
senggang di bawah menara masjid. sehingga enam sahabat ini dijuluki Shohibul
Menara (yang punya Menara).
Suatu hari mereka terpukau dengan mantra arab yakni "MAN JADDA WAJADA", kalimat ini di ulang-ulang dengan lantang oleh wali kelasnya, sehingga kalimat ini merasuk ke seluruh penjuru badan mereka dan mendarah daging. Sore harinya, sambil menunggu waktu maghrib, seperti biasa dibawah menara masjid. Mereka menatap awan lembayung yang bergerak ke ufuk, Awan-awan itu menjelma menjadi Negara dan benua impian masing-masing, Amerika (menurut Alif), Inggris/Eropa (menurut Raja), Mesir/Afrika (menurut Atang), Arab Saudi/Asia (menurut Baso), tetap Indonesia (menurut Said & Dulmajid), kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu, yang mereka tahu adalah jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun, Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Suatu hari mereka terpukau dengan mantra arab yakni "MAN JADDA WAJADA", kalimat ini di ulang-ulang dengan lantang oleh wali kelasnya, sehingga kalimat ini merasuk ke seluruh penjuru badan mereka dan mendarah daging. Sore harinya, sambil menunggu waktu maghrib, seperti biasa dibawah menara masjid. Mereka menatap awan lembayung yang bergerak ke ufuk, Awan-awan itu menjelma menjadi Negara dan benua impian masing-masing, Amerika (menurut Alif), Inggris/Eropa (menurut Raja), Mesir/Afrika (menurut Atang), Arab Saudi/Asia (menurut Baso), tetap Indonesia (menurut Said & Dulmajid), kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu, yang mereka tahu adalah jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun, Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Empat tahun mereka belajar di Pondok
Madani dan berbagai prestasi telah mereka torehkan di pondok tersebut. Sehingga
mereka menjadi lulusan yang handal. Setelah lulus dan berpamitan mereka para
shohibul menara (Alif,Raja,Atang,Baso,Said & Dulmajid) pulang kerumah
masing-masing dengan membawa beragam ilmu pengetahuan di jiwanya.
Setelah selang 11 tahun, kini Alif menjelma
sebagai wartawan TEMPO dan berkantor di Washington DC Amerika, Raja melanjutkan
studi S2 nya di London Inggris, Atang telah 8 tahun menuntut ilmu di Kairo Mesir
dan menjadi Mahasiswa Program Doktor di Al-Azhar, Baso si Hafidz mendapat
Beasiswa penuh dari Pemerintah Arab Saudi, sedangkan Said dan Dulmajid berbisnis
batik dan Merintis Pondok Berbasis PM (Pondok Madani) di Surabaya, kini setelah
11 tahun silam mereka JADDA (Ber sungguh-sungguh) di Pondok akhirnya mereka
WAJADA (Mendapatkan) Impian mereka, 6 Sahabat (Shohibul Menara) berada di Lima
Negara Berbeda sesuai dengan impian mereka tidak ada yang luput, Sungguh Allah
Maha Mendengar kata hati HambaNya.
Sengaja
kami menulis artikel ini untuk menginspirasi semua pembaca, santri PPSM
khususnya untuk tidak takut bermimpi seperti shohibul Menara dalam petikan
Novel di atas, dari itu mari sejak saat ini kita bercita-cita dan berusaha
keras untuk bisa sukses mencapai semua impian kita Insya Allah dengan modal MAN
JADDA WAJADA kita semua akan termotivasi
terus sehingga kita bisa mencapai cita-cita kita Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar