Birrul
Walidain
Kalimat Birrul
Walidain sudah dikenal oleh semua umat islam, namun sedikit yang tahu makna dan
pelaksanaannya, dari itu saya akan membahas tuntas masalah Biirul Walidain,
selamat membaca !!
Birru berasal dari kata barra yang
artinya berbuat baik sedangkan waalidain asal katanya walada yang artinya
melahirkan sedangkan waalid orang yang melahirkan dan waalidain adalah dua orang
yang melahirkan namun di artikan sebagai ke dua orang tua jadi Birrul walidain
berbakti pada orang tua.
Syariat islam sangat menganjurkan
agar kita semua berbakti kepada orang tua kita, sebagaimana dalam ayat-ayat
alqur’an dan mutiara-mutiara hadist nabi yang tersebar dalam kitab-kitab
ahadist annabawiyah. Contoh
“WALA TAQUL LAHUMA UFFIN WALA TANHAR
HUMA WAQUL
LAHUMA QOULAN KARIMAN”
“dan jangan lah kamu mengatakan
kepada keduanya kata Uff (Cacian) dan jangan kamu gertak keduanya tapi
katakanlah kepada keduanya perkataan-perkataan yang mulia”.
Hadits Nabi SAW.
“BIRRU ABA’AKUM TABIRRUKUM ABNA’UKUM”
“Berbaktilah pada orang tuamu
niscaya kamu akan dimuliyakan oleh
anak-anakmu”
kalau melihat pada ayat & hadits
di atas, itu bisa disimpulkan bahwa syariat islam sangat menganjurkan berbakti
pada ke dua orang tua, karena dengan perantara merekalah kita bisa menghirup
udara dunia, kita bisa tumbuh, berkembang, & sukses.
Simaklah
kisah berikut ini!
Al-kisah
pada zaman dahulu di salah satu desa, ada sebuah keluarga yang terdiri dari
seorang ayah, ibu, kakek yang sudah tua pikun & lumpuh dan seorang anak
kecil laki-laki, si kakek sering sakit-sakitan, dan merepotkan keluarga
sehingga si ayah yakni anaknya kakek itu sendiri habis kesabarannya dan
berencana untuk membuang/membunuh si kakek atau ayahnya sendiri.
“Akhuk,
akhuk, akhuk, aduuuuuh, aduuuuh, aduuuuh” si kakek batuk dan merintih
terus menerus
“Aduh
bapak ni batuk-batuk terus, makanya minum obat!” si ayah mengomel
“Ga’
aku ga’ mau obat” jawab si kakek
“Bandel banget ni orang, sebel deh, kalau
begini terus si tua bangka ini akan terus bikin susah hidupku” gumamnya dalam
hati
Semakin
lama batuk si kakek semakin parah dan si ayah sudah tidak sabar lagi
“harus
ku singkirkan sekarang ni orang, biar hidupku tenang” ucap si ayah dalam
hatinya
Si
ayah tadi mengambil sebuah karung besar, lalu memasukkan si kakek kedalamnya,
dan di bawa keluar rumah menuju ke hutan, istrinya menyuruh anaknya, yakni
seorang anak laki-laki yang masih kecil itu tuk menyusul ayahnya, anak tersebut
langsung mengikuti ayahnya., dan bertanya pada ayahnya.
“ayah
apa isi karung itu??” si anak bertanya
“ini
kakekmu, ayah akan membuangnya ke hutan” jawab si ayah
“lho
kenapa ko’ kakek mau di buang yah” Tanya
si anak masih penasaran
“kakekmu
sudah tua, pikun, sakit-sakitan, sudah tak berguna jadi lebih baik dibuang
saja”
“O……..,
berarti kalau sudah tua & tak berguna tu harus dibuang” pikirnya dalam hati
Setelah
sampai di hutan, si ayah membuang kakek tadi, yakni bapak kandungnya sendiri
dalam keadaan masih terbungkus karung besar.
“ayo’
nak kita pulang dah!” ajak si ayah pada anaknya setelah membuang si kakek tadi
“lho
ko’ karungnya tidak dilepas yah” protes si anak
“
biarkan saja, memang buat apa lagi
karung itu?” jawab si ayah
“ya
biar ku simpan nanti kalau aku sudah besar dan ayah sudah tua, pikun dan sering
sakit-sakitan, aku akan pake’ karung itu untuk membuang ayah ke hutan biar
cepet mati” cetus si anak, polos
Si
ayah tadi langsung sadar bahwa kalau dirinya berbuat jahat pada bapaknya suatu
saat nanti anaknya juga akan berbuat jahat padanya, akhirnya dia membawa pulang
si kakek tadi. Dan mulai saat itu si ayah tadi merawat si kakek di rumahnya.
Wassalam,..
Wassalam,..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar