PEMIKIRAN FILOSOFIS TENTANG
DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Oleh :
Ahmad Muzammil (F06213077)
Muqimah Liwais Sunnah (F06213076)
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA
KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
PROGRAM PASCA SARJANA IAIN SUNAN
AMPEL
SURABAYA
2013
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim kami mulai tulisan ini dengan
ucapan Alhamdulillahi robbil alamin, Puja puji syukur kami ucapkan kehadirat
Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidahnya kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah tentang “Pemikiran Filosofis
Tentang Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam”. Shalawat dan
salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan
sebaik-baiknya teladan dan rahmat bagi seluruh alam. Tidak lupa penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Filsafat
Pendidikan Islam, Bapak Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA yang telah banyak
memberikan penjelasan-penjelasan baru kepada kami tentang berbagai ilmu,
utamanya tentang ilmu Filsafat, khususnya kepada kami mahasiswa semester I PBA
Pascasarjana Reguler. Semoga apa yang beliau ajarkan kepada kami menjadi
manfaat dan menjadi amal jariyah bagi beliau di Akherat kelak. Ami>n.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Filsafat Pendidikan Islam. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa
pembahasan mengenai “Pemikiran Filosofis Tentang Dasar Dan Tujuan Pendidikan
Islam”, Pengertian Pendidikan Islam, Tujuan Pendidikan Islam, Pijakan Dalil Naqli
tentang Tujuan pendidikan Islam dan Rumusan Pemikiran Tokoh-tokoh Islam dalam
Tujuan Pendidikan Islam.
Akhirnya penulis sampaikan terima kasih atas perhatiannya
terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi
penulis khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Pepatah Arab
mengatakan “Idza> tamma al-amru dhahara naqshuhu” Demikian juga
dengan makalah ini, kami yakin masih banyak kekurangan di dalam penulisan,
kajian dan kesimpulan. Sehingga kami sangat mengharap kritik, arahan, saran dan
motivasi dari semua pembaca, utamanya kepada Bapak Pembimbing, guna kesuksesan
kami dalam penulisan makalah-makalah berikutnya. Akhirul Kalam
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Surabaya, Oktober 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar..................................................................................................................i
Daftar isi............................................................................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN...................................................................................................1
A.
Latar Belakang
...................................................................................................1
B.
Rumusan Masalah
..............................................................................................2
C.
Tujuan Penulisan Makalah
.................................................................................2
BAB
II PEMBAHASAN....................................................................................................3
A. Pengertian Dasar dan Tujuan
Pendidikan Islam ..................................................... 3
1. Pengertian Dasar Pendidikan
Islam..................................................................3
2.Tujuan Pendidikan
Islam......................................................................................
5
B. Pijakan Dalil Naqli Tentang
Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam
....................... 6
1.Dalil
tentang Dasar Pendidikan Islam..................................................................
6
2.Dalil
tentang Tujuan Pendidikan Islam................................................................
8
C.
Kejelasan Manfaat Dasar dan
Tujuan Pendidikan Islam .................................... 9
- Rumusan Pemikir Islam tentang Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam .............. 11
BAB III KESIMPULAN..................................................................................................................13
DAFTAR
PUSTAKA.......................................................................................................................14
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Sebagai Makhluk yang berpredikat h}ayawa>nun na>tiq, manusia
dituntut untuk selalu berfikir dinamis guna menciptakan karya-karya baru yang
bisa bermanfaat bagi alam.
Allah menciptakan manusia dengan
tujuan agar beribadah dan mengabdi kepadanya, disamping itu, Allah juga telah
memilih manusia sebagai Khalifahnya di Bumi ini. Secara garis besar, Manusia
memiliki dua peranan, Pertama sebagai Abdullah (Hamba Allah), yang senantiasa
beribadah kepada Allah, sebagai ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang
telah diberikanNya. Kedua sebagai Kholfatullah Fil Ard (Khalifah Allah di
bumi), yang harus selalu melakukan dinamisasi guna kesejahteraan seluruh alam.
Agar visi misi manusia berjalan
dengan baik, Allah memberikan fasilitas berupa fisik yang sempurna, akal, hati,
perasaan, cinta, kasih sayang dll. Disamping itu, sebagai evaluasi, Allah juga
melengkapi dengan nafsu, syahwat, benci, marah dll. Dua sifat yang kontadiktif
tersebut selalu menemani perjalanan hidup manusia.
Kembali pada awal tulisan ini,
bahwasanya manusia adalah Hayawa>nun
Na>tiq(Hewan yang ber akal), bisa disimpulkan bahwasanya, manusia sudah memiliki
sifat kehewanan (nafsu, syahwat, kebutuhan biologis dll), yang kalau tidak di
kendalikan akan membawa kehancuran. Dan disamping itu manusia juga natiq
(berakal, berfikir) yang akan menjadi pencegah/penyelamat terhadap kehancuran.
Namun agar akal bisa berfungsi dengan
baik dan benar, butuh pengajaran, bimbingan dan arahan. Nah disinilah peran
pendidikan terhadap manusia.
Manusia dilahirkan kedunia dalam keadaan suci, ibarat kertas kosong, namun
manusia memiliki potensi untuk mengetahui segala hal, dengan bekal akal yang
telah disediakan oleh Allah. Dengan demikian yang menentukan manusia menjadi
baik dan buruk adalah lingkungan, keluarga dan pendidikan.
Nabi Muhammad bersabda :
ما من مولود الا يولد على الفطرة فأبواه
يهودانيه أوينصرانيه أو يمجسانيه
“Setiap anak
cucu Adam (Manusia) dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanyalah
yang menajdikannya beragama Majusi dan Nasrani”
Berdasar hadith Nabi di atas, peranan orang tua / keluarga sangatlah
berpengaruh terhadap perkembangan anak. Maka seyogyanya orang tua menanamkan
pendidikan keislaman kepada anak, sebagai bekal awal perjalanannya menjadi
manusia yang memikul tanggung jawab sebagai Hamba Allah dan Khalifah di Bumi.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian dasar dan tujuan
pendidikan Islam?
2.
Apakah pijakan dalil naqli tentang
dasar dan tujuan pendidikan Islam ?
3.
Apakah manfaat kejelasan dasar dan
tujuan dalam pemikiran pendidikan Islam ?
4.
Bagaimana beberapa rumusan pemikir
muslim tentang dasar dan tujuan pendidikan Islam?
C.
Tujuan
Penulisan Makalah
1.
Untuk mengetahui pengertian dasar dan
tujuan pendidikan islam
2.
Untuk mengetahui pijakan dalil naqli
tentang dasar dan tujuan pendidikan Islam
3.
Untuk mengetahui manfaat kejelasan
dasar dan tujuan pemikiran pendidikan Islam
4.
Untuk mengetahui beberapa rumusan
pemikir muslim tentang dasar dan tujuan pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
1. Pengertian
Dasar Pendidikan Islam
Secara etimologi, pendidikan berasal
dari kata dasar didik yang berarti ajaran, atau bimbingan, dan mendapat awalan pe-
dan akhiran –an yang berarti proses mengubah sikap dan perilaku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Dalam Bahasa Inggris, pendidikan disebut dengan
istilah education yang asal katanya yaitu educate yang berarti
mendidik. Adapun dalam bahasa Arab, ada beberapa istilah yang biasa digunakan,
yaitu : tarbiyyah, ta’di>b dan ta’li>m.[1]
Sedangkan pengertian pendidikan secara
terminologi adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2]
Marimba (1989:19) menyatakan bahwa
pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang
utama.[3]
Pengertian pendidikan Islam merujuk
pada tiga istilah pendidikan dalam bahasa Arab, yakni tarbiyah, ta’lim dan
ta’dib. Tarbiyah berasal dari kata Robba, pada hakikatnya merujuk kepada Allah
selaku Murabby (pendidik) sekalian alam. Kata Rabb (Tuhan) dan Murabby
(pendidik) berasal dari akar kata seperti termuat dalam ayat al-Qur’an
:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. Al-Israa:24).
Sayed Muhammad Al-Naqueb Al-Atas mendefinisikan pengertian pendidikan Islam
cukup pada istilah “ta’di>b” dengan
mempertentangkan peristilahan “tarbiyah danta’li>m”. Menurut pendapatnya, istilah
Tarbiyah yang diambil dari kata “rabba>” ((رباdan “rabba”
((ربyang kemudian
diartikan dengan memberi makan, memelihara, mengasuh dan membesarkan. Sedangkan
“ta’li>m” (تعليم)
berasal dari kata “’allama” (علَم) yang berarti mengajar, yaitu mentransfer
ilmu pengetahuan, padahal ilmu pengetahuan hanya merupakan sebagian saja dari
unsur yang hendak di transformasikan dalam pendidikan Islam. Istilah “Ta’di>b” (تأديب) berasal dari kata “addaba” (أدب), yang
berarti disiplin tubuh jiwa dan roh. Disiplin yang menegaskan pengenalan dan
pengakuan tempat yang berhubungan dengan kemampuan dan potensi jasmaniah,
intelektual dan rohaniah.[4]
Pengenalan dan pengakuan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara
herarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajatnya. Dalam definisi ini
terkandung lmu dan amal, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Sebagai
berikut;
أدبني ربي فأحسن تأديب
“Tuhanku telah mendidikku, dan dengan
demikian menjadikan pendidikan yang terbaik”.
Dengan demikian, istilah ta’di>b lebih tepat dipakai untuk pendidikan dari pada ta’li>m atau tarbiyahyang dipakai
sampai sekarang.[5]
Pengertian ini menekankan pada proses pendidikan, berupa transformasi ilmu
pengetahuan dan nilai kepada peserta didik secara berangsur-angsur, yang
diharapkan bisa diaktualisasikan melalui perilakunya dalam kehidupan
sehari-hari, yaitu kedudukan dan kondisinya dalam kehidupan, sehubungan dengan
diri, keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakatnya, serta kepada disiplin
pribadinya. Hal ini berarti, mereka harus mengetahui posisinya dalam tatanan
kemanusiaan dan bertindak sesuai dengan pengetahuan yang positif dan terpuji,
sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT dalam kitab sucinya.[6]
Ringkasnya, pengrtian dasar tentang pendidikan Islam adalah bimbingan yang
diberikan oleh seseorang kepada orang lain, agar ia berkembang secara maksimal
sesuai dengan ajaran Islam.[7]
2.
Tujuan Pendidikan Islam
Adapun konsep dan tujuan pendidikan,
maka definisi yang paling sederhana yang mungkin disebut tentang itu adalah perubahan
yang diinginkan yang di usahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan
untuk mencapainya, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan
pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan pada alam sekitar tentang
individu itu hidup, atau pada proses pendidikan sendiri dan proses pengajaran
sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai proporsi di antara profesi-profesi
asasi dalam masyarakat.[8]
Prof. Mohd. Athiya El-Abrasyi dalam kajiannya tentang
pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan am yang asasi bagi pendidikan
Islam, yaitu :
a.
Untuk membantu pembentukan akhlak yang
mulia
b.
Persiapan untuk kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat
c.
Persiapan untuk mencari rezeki dan
pemeliharaan segi-segi kemanfaatan
d.
Menumbuhkan roh ilmiah (scientific
spirit) pada pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui (curiosity)
dan memungkinkan ia mengkaji ilmu tidak sekedar sebagai ilmu.
e.
Menyiapkan pelajar dari segi
profesional dan tekhnis[9]
Pada kajian yang dibuat Prof. Abd. Rahman Bahlawy dalam bukunya : Dasar-
Dasar Pendidikan Islam dan metode-metode Pengajarannya” penulis mengumpulkan
empat tujuan atau maksud am asasi bagi pendidikan Islam, yaitu :
a.
Pendidikan akal dan persiapan fikiran
b.
Menumbuhkan kekuatan-kekuatan dan
kesediaan-kesediaan (bakat-bakat) pada kanak-kanak
c.
Menaruh perhatian pada kekuatan
generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya, baik lelaki ataupun
perempuan.
d.
Berusaha untuk menyeimbangkan segala
kekuatan dan kesediaan-kesediaan manusia[10]
Al-Aynayni (1980:153-217) berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
membentuk manusia yang selalu beribadah kepada Allah, serta membentuk manusia
yang kamil (sempurna), yang memiliki ciri-ciri jasmaninya sehat dan kuat,
akalnya cerdas dan pandai, serta hatinya taqwa kepada Allah.[11]
Dari beberapa pendapat tentang tujuan pendidikan Islam di atas, bisa di
simpulkan, tujuan pendidikan Islam adalah
mencetak pribadi-pribadi unggul dalam bidang IPTEK dan IMTAQ, mampu
mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi Manusia
Paripurna (Insan Kamil), yang selalu konsisten pada Dzikir, Fikir, Amal Sholeh
dan seimbang antara Hablun Minallah maupun Hablun Minannas.
B.
Pijakan Dalil
Naqli Tentang Dasar Dan Tujuan
Pendidikan Islam
1. Dalil tentang
Dasar Pendidikan
Islam
Surah al-Alaq ayat 1-5
اقرأ باسم ربك
الذي خلق . خلق الانسان من علق . اقرأ و ربك الأكرم . الذي علم بالقلم . علم
الانسان ما لم يعلم .
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.”
Kata Iqra’ pada ayat awal ayat pertama memiliki ma’na
perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk membaca, sedangkan obyek yang di baca
bermacam-macam, bisa ayat – ayat Allah yang tertulis dalam Alqur’an itu
sendiri, dan dapat pula ayat-ayat Allah yang tidak tertulis, seperti yang
terdapat pada alam jagat raya dengan segala hukum kausalitas yang ada di
dalamnya, dan pada diri manusia. Berbagai ayat tersebut jika dibaca dalam arti di tela’ah, di
observasi, diidentifikasi, dikatagorisasi, dibandingkan, dianalisa dan
disimpulkan dapat menghasilkan ilmu pengetahuan.[12]
Membaca ayat-ayat Allah yang ada dalam Al-qur’an dapat
menghasilkan ilmu agama seperti Fiqih, Tauhid, Akhlak dan sebagainya. Sedangkan
membaca ayat-ayat Allah yang ada di jagat raya dapat menghasilkan sains seperti
fisika, kimia, biologi, astronomi, geologi, botani dan sebagainya. Selanjutnya
jika membaca ayat-ayat Allah yang ada dalam diri manusia dari segi fisiknya
mengahasilkan sains seperti ilmu kedokteran dan ilmu tentang raga, dan dari
segi tingkah lakunya menghasilkan ilmu ekonomi, ilmu politik, sosiologi,
antropologi, dari segi kejiwaannya menghasilkan ilmu psikologi. Dengan demikian
karena obyek ontologi seluruh ilmu tersebut adalah ayat-ayat Allah, maka
sesungguhnya ilmu itu pada hakekatnya milik Allah, dan harus diabdikan untuk
Allah. Manusia hanya menemukan dan memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut. Pemanfaatan
ilmu-ilmu tersebut harus ditujukan untuk mengenal, mendekatkan diri dan
beribadah kepada Allah SWT. Dengan demikian ayat pertama surat al-Alaq ini
terkait erat dengan obyek, sasaran, dan tujuan pendidikan.[13]
Jika
Ayat-ayat pada surat al-Alaq diatas di pikir secara filosofis, maka
menghasilkan penjelasan tentang konsep
dasar dalam pendidikan Islam. Ada beberapa poin penting yang berkaitan dengan
pendidikan Islam dalam ayat-ayat ini, pertama kalimat Iqra’ artinya bacalah
(belajarlah), kalimat ini berisi perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk
membaca (murid). Kedua kalimat allama yang berarti Allah mengajar (guru).
Ketiga bil qolam yang berarti Allah mengajar dengan baca tulis[14]
(media). Keempat allamal insana yang berarti Allah mengajar manusia (proses).
Ke lima ma lam ya’lam yang berarti apa yang tidak diketahuinya (materi).
pokok keislamannya terdapat pada kalimat
bismi Robbika alladzi kholaq (visi).
Dari
keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa ayat 1-5 dalam surat al-Alaq
merupakan dalil tentang dasar dari pendidikan Islam.
2.
Dalil tentang Tujuan Pendidikan Islam
Ada
beberapa ayat yang mengandung tujuan pendidikan islam, antara lain:[15]
a. Surah al-Baqarah ayat
1-5
الم.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ
بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّارَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ
إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ. الئك على
هدا من ربهم و الئك هم المفلحون.
Alif laam miim.Kitab (al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya;
petunjuk bagi rnereka yang bertaqwa,(yaitu) mereka yang beriman kepada yang
ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki, yang Kami
anugerahkan kepada mereka. Dan mereka
yang beriman kepada Kitab (al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan
Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu; serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat. Mereka
itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan rnerekalah orang-orang
yang beruntung.
Syarh dan Tafsir singkat
1) Orang yang bertakwa adalah orang
yang mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima petunjuk Ciri orang yang
bertaqwa: mengimani yang ghaib, mendirikan shalat, serta menafkahkan sebagian
rezeki.
2) Yuqinun (yakin) adalah pengetahuan
yang mantap tentang sesuatu dibarengi dengan tersingkirnya keraguan maupun
dalih-dalih yang dikemukakan lawan. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dari hal diatas dapat dipahami bahwa surah al-baqarah ayat
1-5 kalaulah dikaitkan dengan tujuan pendidikan sebagai berikut :
a)
Mewujudkan manusia yang taqwa dan banyak beramal shaleh
b)
Agar manusia mempercayai akan keberadaan Allah
c)
Mewujudkan manusia yang percaya akan hari akhir
d)
Mewujudkan kesuksesan dalam hidup.
b. Surah al-Hajj ayat 41
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي
الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ
وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِوَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan Zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan “.
Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:
1) Mewujudkan seorang yang selalu
menegakkan kebenaran dan mencegah kemunkaran.
2) Mewujudkan manusia yang selalu
bertawakkal pada Allah
C.
Kejelasan
Manfaat Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Dasar pendidikan islam adalah identik dengan dasar
ajaran islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu
al-Qur’an dan hadits.kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para
ulama dalam bentuk qiyassyar’i, ijma’ yang diakui, serta ijtihad dan
tafsir yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu
tentang jagat raya, manusia, masyarakat dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan dan
akhlak dengan merujuk kepada kedua sumber asal. (Al-Syaibani : 1979)
Menjadikan al-Qur’an dan hadist sebagai dasar
pemikiran dalam membina sistem pendidikan, bukan hanya dipandang sebagai
kebenaran yang didasarkan kepada keyakinan semata.Lebih jauh kebenaran itu juga
sejalan dengan kebenaran yang dapat diterima oleh nalar dan bukti sejarah, sebagaimana
yang telah dikemukakan sebelumnya. Dengan demikian barangkali wajar jika
kebenaran itu kita kembalikan pada pembuktian akan kebenaran pernyataan Firman
Allah :
ذلك الكتاب لا ريب فيه هـدا للمتقين
“ Kitab
(al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi mereka yang taqwa.”
(QS.2:2)
Kebenaran
yang dikemukakanNya mengandung kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran yang
spekulatif, lestari dan tidak bersifat tentatif (sementara). Kebenaran yang
seperti itu pula yang dijadikan dasar pemikiran dalam membina sistem pendidikan
islam.
Berbeda dengan kebenaran yang
dibuat oleh hasil pemikiran manusia.Kebenaran produk nalar manusia,
sebagaimanapun terbatas oleh ruang dan waktu.Selain itu, pemikiran tersebut
mengandung muatan subyektivitas, sesuai dengan sudut pandang
masing-masing.Adanya kedua faktor ini, mendorong hasil pemikiran para ahli
pendidikan untuk membuahkan konsep pendidikan yang sesuai dengan pandangan
hidup masing-masing.[16]
Adapun tujuan pendidikan islam
yang sejalan dengan tujuan missi islam itu sendiri adalah mempertinggi nilai
akhlak, hingga mencapai tingkat akhlaqu al-kari>mah.[17]
Akhlak dalam agama islam adalah suatu ilmu yang dipelajari didalamnya tingkah
laku manusia, atau sikap hidup (the human conduct) dalam pergaulan hidup.[18]
Faktor kemuliaan akhlak dalam
pendidikan islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan
pendidikan, yang dalam pandangan islam berfungsi untuk menyiapkan manusia yang
mampu menata kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat.
Dua sasaran pokok yang akan
dicapai oleh pendidikan islam, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat,
memiliki peran yang penting. Nilai tersebut terlihat bahwa sistem pendidikan
islam dirancang agar dapat merangkum tujuan hidup manusia sebagai makhluk
ciptaan Tuhan, yang tunduk pada hakikat penciptaanNya, yaitu :
1.
Tujuan
pendidikan islam itu bersifat fitrah, yaitu membimbing perkembangan manusi
sejalan dengan fitrah kejadiannya.
2.
Tujuan
pendidikan islam merentang dua dimensi, yaitu tujuan akhir bagi keselamatan
hidup di dunia dan di akhirat
3.
Tujaun
pendidikan islam mengandung nilai-nilai yang bersifat universal yang tak
terbatas oleh ruang lingkup geografis atau paham-paham tertentu.[19]
Tujuan
akhir ini hanya akan mungkin dicapai setelah tahap sebelumnya dapat diterapkan,
yaitu menempatkan manusia dalam kehidupannya sebagai pengabdi Allah yang setia,
melalui tahap penempatan dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi sesuai
dengan fitrah kejadiannya.
Hal inilah yang memberikan nilai
lebih bagi pendidikan islam dibandingkan dengan pendidikan umum, yang
didasarkan pada falsafat pendidikan produk pemikiran spekulatif dari nalar
manusia. Seperti Langveld yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan agar anak
terbentuk kata hatinya (Crin dan Reksosiswojo : 1954)
Betapapun besarnya kesungguhan
yang telah dilakukan, sistem pendidikan yang dirancang atas dasar falsafat
pendidikan yang didasarkan pemikiran spekulatif, tak terlepas dari sejumlah
kerapuhan. Bebrapa kelemahan yang tampak bahwa hasil perenungan nalar manusia
melalui kemampuan nalar sangat terbatas, yaitu :
1.
Pemikiran
tersebut hanya dapat menjangkau kepentingan tujuan yang bersifat semasa dan
untuk kelompok tertentu.
2.
Hasil
pemikiran terbatas pada tujuan yang berjangka pendek, yaitu untuk kepentingan
hidup di dunia.[20]
D.
Rumusan
Pemikir Islam tentang Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
1.
Ibnu
Sina
Abu
Ali Husein Ibn Abdullah Ibn Sina lahir di Bukhara tahun 370 H/ 980 M. Ia
dianggap sebagai orang yang cerdas, karena dalam usia yang sangat muda (17
tahun) Ibn Sina telah dikenal sebagai filosof dan dokter terkemuka di Bukhara.
Adapun
pemikiran Ibn Sina yang berkaitan dengan pendidikan adalah pemikirannya tentang
filsafat ilmu.Diantaranya adalah, Ibnu Sina membagi ilmu menjadi dua, yaitu
ilmu yang tak kekal dan ilmu yang kekal (hikmah).
Ibnu
Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan (sa’a>dat).Kebahagiaan
ini dicapai secara bertingkat, sesuai dengan tingkat pendidikan yang
dikemukakannya, yaitu kehidupan pribadi, kebahagiaan rumah tangga, kebahagiaan
masyarakat, kebahagiaan manusia secara menyeluruh, dan kebahagiaan yanga akhir
adalah kebahagiaan manusia di alam akhirat.[21]
2.
Al-Ghazali
Imam
al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali.
Al-Ghazali termasuk ke dalam kelompok sufistik yang banyak menaruh perhatian
yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang banyak menentukan
corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya.[22]
Dalam
masalah pendidikan, al-Ghazali lebih cenderung berpaham empirisme.Hal ini antara lain disebabkan karena ia sangat
menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik.
Tujuan
pendidikan menurutr al-Ghazali adalah untuk mendapatkan diri kepada Allah SWT
bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan, dan kegagahan, atau mendapatkan
kedudukan yang menghasilkan uang.
Rumusan
tujuan pendidikan al-Ghazali itu juga karena dia memandang dunia ini bukan
merupakan hal pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat
memutuskan kenikmatannya setiap saat.lebih lanjut, al-Ghazali mengatakan bahwa
orang yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan
akhirat, sehingga orang tersebut derajatnya lebih tinggi disisi Allah dan lebih
luas kebahagiaannya di akhirat. Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan ini
tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan dunia itu hanya sebagai alat[23]. Hal ini dipahami
al-Ghazali berdasar pada isyarat al-Qur’an :
و ما الحـياة
الدنيا الا متـاع الغـرور
“Kehidupan
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Q.S. al-Hadid :20)
3.
Ibnu
Khaldun
Sebuah
ciri khas yang melatarbelakangi kehidupan Ibnu Khaldun adalah ia berasal dari
keluarga politis, intelektual, dan aristrokrat. Ibnu Khaldun memandang bahwa
manusia adalah makhluk yang berbeda dengan makhluk lainnya, karena mausia
adalah makhluk berpikir. Leat kemampuan berpikirnya itu, manusi tidak hanya
membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna
memperoleh makna hidup. Proses-proses inilah yang melahirkan peradaban.
Tujuan
pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah untuk menanamkan keimanan dalam hati
anak didik, menginternalisasikan nilai-nilai moral, sehingga mampu memberikan
pencerahan jiwa dan perilaku yang baik.[24]
Menurut
Ibnu Khaldun, tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal,
diantaranya yaitu :
a)
Tujuan
peningkatan pemikiran. Ibnu Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan
pendidikan adlaah memeberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dan
melakukan aktifitas.
b)
Tujuan
peningkatan bagi masyarakat. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ilmu dan pengajaran
adalah lumrah peradaban manusia
c)
Tujuan
pendidikan dari segi keruhanian. Ibnu Khaldun memandang pendidkan sebagai
investasi masa depan dan memiliki keterkaitan dengan pekerjaan, di samping
tentu saja pembentukan kepribadian dan pembimbing menuju berpikir dan berbuat
yang benar. [25]
BAB III
KESIMPULAN
Pengrtian dasar tentang pendidikan Islam
adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain, agar ia
berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam
Tujuan pendidikan Islam adalah
mencetak pribadi-pribadi unggul dalam bidang IPTEK dan IMTAQ, mampu
mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi Manusia
Paripurna (Insan Kamil), yang selalu konsisten pada Dzikir, Fikir, Amal Sholeh
dan seimbang antara Hablun Minallah maupun Hablun Minannas.
Ibnu Sina berpendapat bahwa
tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan (sa’a>dat).Kebahagiaan
ini dicapai secara bertingkat, sesuai dengan tingkat pendidikan yang
dikemukakannya, yaitu kehidupan pribadi, kebahagiaan rumah tangga, kebahagiaan
masyarakat, kebahagiaan manusia secara menyeluruh, dan kebahagiaan yanga akhir
adalah kebahagiaan manusia di alam akhirat.
Tujuan pendidikan menurutr al-Ghazali adalah untuk
mendapatkan diri kepada Allah SWT bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan, dan
kegagahan, atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang.
Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah untuk
menanamkan keimanan dalam hati anak didik, menginternalisasikan nilai-nilai
moral, sehingga mampu memberikan pencerahan jiwa dan perilaku yang baik
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ahwani, Ahmad Fuad, al-Tarbiyahfi al-Islam,
Mesir, Dar el-Misriyah. Ahid, Nur, Pendidikan keluarga dalam
perspektif Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. 2010
Chasanah, Uswatun (Tim Penulis), Antologi Kajian Islam, Surabaya: pascasarjana
IAIN Sunan Ampel Press. 2012
Djaelani,
Timurdan Fatawi, M. Marsekan.Filsafat
Pendidikan Islam.Jakarta. 1988
Jalaluddin dan
Said,
Usman.Filsafat
Pendidikan Islam.Jakarta: PT. Raja Grafindo. 1994
Nata, Abudin.Filsafat
Pendidikan Islam.Jakarta :Logos Wacana Ilmu. 1997
Al-Syaibani,
Moh.Omar Mohammad al-Toumy.Falsafah Pendidikan Islam.Jakarta : PT. Bulan
Bintang. 1979 Tafsir,
Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam,Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
1991
Tim Dosen
fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim.
Pendidikan Islam dai Paradigma Klasik Hingga Kontemporer. Malang
: 2009
[1] Uswatun Chasanah (Tim Penulis), Antologi
Kajian Islam (Surabaya: pascasarjana IAIN Sunan Ampel Press, 2012), hal 146
[3] Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan dalam perspektif Islam (Bandung :PT Remaja Rosdakarya, 1991), hal 24
[4] Dr. Nur Ahid. M.Ag,
Pendidikan keluarga dalam perspektif Islam (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010)
hal 10
[16] Dr. Jalaluddin dan Drs. Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam,
(Jakarta:1994), hal. 37-38
[17] Prof. Dr. Moh. Omar Mohammad al-Toumy Al-Syaibani, Falsafah
Pendidikan Islam, (Jakarta : 1979), hal. 311
[18] Prof. H.A. Timur Djaelani,
M.A. dan Drs. M. Marsekan Fatawi, Filsafat Pendidikan Islam.
(Jakarta:1988), hal. 51
[19]Dr. Jalaluddin dan Drs. Usman Said, Op.cit, hal. 39
[20]Ibid, hal. 40
[21]Ibid, hal. 136-137
[22]Ahmad Fuad al-Ahwani, al-Tarbiyahfi al-Islam, Mesir, Dar
el-Misriyah, hal. 87
[23] Drs.H. Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta :
1997), hal. 163
[24] Tim Dosen fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim, Pendidikan Islam dai Paradigma Klasik Hingga
Kontemporer,(Malang : 2009)hal.247
[25]Ibid. hal. 248

Tidak ada komentar:
Posting Komentar