Senin, 16 Juni 2014

Makalah Filsafat Pendidikan Islam



PEMIKIRAN FILOSOFIS TENTANG
DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam












Oleh :
Ahmad Muzammil (F06213077)
Muqimah Liwais Sunnah (F06213076)

Dosen Pengampu :
Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA




KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
PROGRAM PASCA SARJANA IAIN SUNAN AMPEL
SURABAYA
2013

KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim kami mulai tulisan ini dengan ucapan Alhamdulillahi robbil alamin, Puja puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah tentang “Pemikiran Filosofis Tentang Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam”. Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan sebaik-baiknya teladan dan rahmat bagi seluruh alam. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam, Bapak Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA yang telah banyak memberikan penjelasan-penjelasan baru kepada kami tentang berbagai ilmu, utamanya tentang ilmu Filsafat, khususnya kepada kami mahasiswa semester I PBA Pascasarjana Reguler. Semoga apa yang beliau ajarkan kepada kami menjadi manfaat dan menjadi amal jariyah bagi beliau di Akherat kelak. Ami>n.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa pembahasan mengenai “Pemikiran Filosofis Tentang Dasar Dan Tujuan Pendidikan Islam”, Pengertian Pendidikan Islam, Tujuan Pendidikan Islam, Pijakan Dalil Naqli tentang Tujuan pendidikan Islam dan Rumusan Pemikiran Tokoh-tokoh Islam dalam Tujuan Pendidikan Islam.
Akhirnya penulis sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Pepatah Arab mengatakan “Idza> tamma al-amru dhahara naqshuhu” Demikian juga dengan makalah ini, kami yakin masih banyak kekurangan di dalam penulisan, kajian dan kesimpulan. Sehingga kami sangat mengharap kritik, arahan, saran dan motivasi dari semua pembaca, utamanya kepada Bapak Pembimbing, guna kesuksesan kami dalam penulisan makalah-makalah berikutnya. Akhirul Kalam Wassalamu’alaikum Wr.Wb

                                                                                     Surabaya, Oktober 2013


Penyusun


DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................................i
Daftar isi............................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1
A.    Latar Belakang ...................................................................................................1
B.     Rumusan Masalah ..............................................................................................2
C.     Tujuan Penulisan Makalah .................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................3
A.    Pengertian Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam ..................................................... 3
1. Pengertian Dasar Pendidikan Islam..................................................................3
2.Tujuan Pendidikan Islam...................................................................................... 5
B.     Pijakan Dalil Naqli Tentang Dasar  Dan Tujuan Pendidikan Islam ....................... 6
1.Dalil tentang Dasar Pendidikan Islam.................................................................. 6
2.Dalil tentang Tujuan Pendidikan Islam................................................................ 8
C.     Kejelasan Manfaat Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam .................................... 9
  1. Rumusan Pemikir Islam tentang Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam .............. 11
BAB III KESIMPULAN..................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................................14


BAB 1
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

     Sebagai Makhluk yang berpredikat h}ayawa>nun na>tiq, manusia dituntut untuk selalu berfikir dinamis guna menciptakan karya-karya baru yang bisa bermanfaat bagi alam.
     Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar beribadah dan mengabdi kepadanya, disamping itu, Allah juga telah memilih manusia sebagai Khalifahnya di Bumi ini. Secara garis besar, Manusia memiliki dua peranan, Pertama sebagai Abdullah (Hamba Allah), yang senantiasa beribadah kepada Allah, sebagai ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikanNya. Kedua sebagai Kholfatullah Fil Ard (Khalifah Allah di bumi), yang harus selalu melakukan dinamisasi guna kesejahteraan seluruh alam.

   Agar visi misi manusia berjalan dengan baik, Allah memberikan fasilitas berupa fisik yang sempurna, akal, hati, perasaan, cinta, kasih sayang dll. Disamping itu, sebagai evaluasi, Allah juga melengkapi dengan nafsu, syahwat, benci, marah dll. Dua sifat yang kontadiktif tersebut selalu menemani perjalanan hidup manusia.

  Kembali pada awal tulisan ini, bahwasanya manusia adalah Hayawa>nun Na>tiq(Hewan yang ber akal), bisa disimpulkan bahwasanya, manusia sudah memiliki sifat kehewanan (nafsu, syahwat, kebutuhan biologis dll), yang kalau tidak di kendalikan akan membawa kehancuran. Dan disamping itu manusia juga natiq (berakal, berfikir) yang akan menjadi pencegah/penyelamat terhadap kehancuran. Namun  agar akal bisa berfungsi dengan baik dan benar, butuh pengajaran, bimbingan dan arahan. Nah disinilah peran pendidikan terhadap manusia.

Manusia dilahirkan kedunia dalam keadaan suci, ibarat kertas kosong, namun manusia memiliki potensi untuk mengetahui segala hal, dengan bekal akal yang telah disediakan oleh Allah. Dengan demikian yang menentukan manusia menjadi baik dan buruk adalah lingkungan, keluarga dan pendidikan.

Nabi Muhammad bersabda :
ما من مولود الا يولد على الفطرة فأبواه يهودانيه أوينصرانيه أو يمجسانيه
“Setiap anak cucu Adam (Manusia) dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanyalah yang menajdikannya beragama Majusi dan Nasrani”

Berdasar hadith Nabi di atas, peranan orang tua / keluarga sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan anak. Maka seyogyanya orang tua menanamkan pendidikan keislaman kepada anak, sebagai bekal awal perjalanannya menjadi manusia yang memikul tanggung jawab sebagai Hamba Allah dan Khalifah di Bumi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dasar dan tujuan pendidikan Islam?
2.      Apakah pijakan dalil naqli tentang dasar dan tujuan pendidikan Islam ?
3.      Apakah manfaat kejelasan dasar dan tujuan dalam pemikiran pendidikan Islam ?
4.      Bagaimana beberapa rumusan pemikir muslim tentang dasar dan tujuan pendidikan Islam?

C.    Tujuan Penulisan Makalah
1.      Untuk mengetahui pengertian dasar dan tujuan pendidikan islam
2.      Untuk mengetahui pijakan dalil naqli tentang dasar dan tujuan pendidikan Islam
3.      Untuk mengetahui manfaat kejelasan dasar dan tujuan pemikiran pendidikan Islam
4.      Untuk mengetahui beberapa rumusan pemikir muslim tentang dasar dan tujuan pendidikan Islam











BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
1.    Pengertian Dasar Pendidikan Islam
Secara etimologi, pendidikan berasal dari kata dasar didik yang berarti ajaran, atau bimbingan, dan mendapat awalan pe- dan akhiran –an yang berarti proses mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam Bahasa Inggris, pendidikan disebut dengan istilah education yang asal katanya yaitu educate yang berarti mendidik. Adapun dalam bahasa Arab, ada beberapa istilah yang biasa digunakan, yaitu : tarbiyyah, ta’di>b dan ta’li>m.[1]

 Sedangkan pengertian pendidikan secara terminologi adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2]

Marimba (1989:19) menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[3]

Pengertian pendidikan Islam merujuk pada tiga istilah pendidikan dalam bahasa Arab, yakni tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Tarbiyah berasal dari kata Robba, pada hakikatnya merujuk kepada Allah selaku Murabby (pendidik) sekalian alam. Kata Rabb (Tuhan) dan Murabby (pendidik) berasal dari akar kata seperti termuat dalam ayat al-Qur’an
             :
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
(Q.S. Al-Israa:24).

Sayed Muhammad Al-Naqueb Al-Atas mendefinisikan pengertian pendidikan Islam cukup pada istilah “ta’di>b” dengan mempertentangkan peristilahan “tarbiyah danta’li>m”. Menurut pendapatnya, istilah Tarbiyah yang diambil dari kata “rabba>”  ((رباdan “rabba((ربyang kemudian diartikan dengan memberi makan, memelihara, mengasuh dan membesarkan. Sedangkan ta’li>m” (تعليم) berasal dari kata “’allama” (علَم) yang berarti mengajar, yaitu mentransfer ilmu pengetahuan, padahal ilmu pengetahuan hanya merupakan sebagian saja dari unsur yang hendak di transformasikan dalam pendidikan Islam. Istilah “Ta’di>b” (تأديب) berasal dari kata “addaba” (أدب), yang berarti disiplin tubuh jiwa dan roh. Disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang berhubungan dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelektual dan rohaniah.[4]

Pengenalan dan pengakuan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara herarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajatnya. Dalam definisi ini terkandung lmu dan amal, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Sebagai berikut; 
             أدبني ربي فأحسن تأديب
Tuhanku telah mendidikku, dan dengan demikian menjadikan pendidikan yang terbaik”.

Dengan demikian, istilah ta’di>b lebih tepat dipakai untuk pendidikan dari pada ta’li>m atau tarbiyahyang dipakai sampai sekarang.[5]

Pengertian ini menekankan pada proses pendidikan, berupa transformasi ilmu pengetahuan dan nilai kepada peserta didik secara berangsur-angsur, yang diharapkan bisa diaktualisasikan melalui perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kedudukan dan kondisinya dalam kehidupan, sehubungan dengan diri, keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakatnya, serta kepada disiplin pribadinya. Hal ini berarti, mereka harus mengetahui posisinya dalam tatanan kemanusiaan dan bertindak sesuai dengan pengetahuan yang positif dan terpuji, sebagaimana telah digariskan oleh Allah SWT dalam kitab sucinya.[6]

Ringkasnya, pengrtian dasar tentang pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain, agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[7] 

2.    Tujuan Pendidikan Islam
Adapun konsep dan tujuan pendidikan, maka definisi yang paling sederhana yang mungkin disebut tentang itu adalah perubahan yang diinginkan yang di usahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan pada alam sekitar tentang individu itu hidup, atau pada proses pendidikan sendiri dan proses pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai proporsi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[8]

Prof. Mohd. Athiya El-Abrasyi dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan am yang asasi bagi pendidikan Islam, yaitu :
a.         Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia
b.         Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat
c.         Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan
d.        Menumbuhkan roh ilmiah (scientific spirit) pada pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui (curiosity) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu tidak sekedar sebagai ilmu.
e.         Menyiapkan pelajar dari segi profesional dan tekhnis[9]

Pada kajian yang dibuat Prof. Abd. Rahman Bahlawy dalam bukunya : Dasar- Dasar Pendidikan Islam dan metode-metode Pengajarannya” penulis mengumpulkan empat tujuan atau maksud am asasi bagi pendidikan Islam, yaitu :
a.         Pendidikan akal dan persiapan fikiran
b.         Menumbuhkan kekuatan-kekuatan dan kesediaan-kesediaan (bakat-bakat) pada kanak-kanak
c.         Menaruh perhatian pada kekuatan generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya, baik lelaki ataupun perempuan.
d.        Berusaha untuk menyeimbangkan segala kekuatan dan kesediaan-kesediaan manusia[10]

Al-Aynayni (1980:153-217) berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang selalu beribadah kepada Allah, serta membentuk manusia yang kamil (sempurna), yang memiliki ciri-ciri jasmaninya sehat dan kuat, akalnya cerdas dan pandai, serta hatinya taqwa kepada Allah.[11]

Dari beberapa pendapat tentang tujuan pendidikan Islam di atas, bisa di simpulkan, tujuan pendidikan Islam adalah  mencetak pribadi-pribadi unggul dalam bidang IPTEK dan IMTAQ, mampu mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi Manusia Paripurna (Insan Kamil), yang selalu konsisten pada Dzikir, Fikir, Amal Sholeh dan seimbang antara Hablun Minallah maupun Hablun Minannas.

B.       Pijakan Dalil Naqli Tentang Dasar  Dan Tujuan Pendidikan Islam
1.    Dalil tentang Dasar Pendidikan Islam
Surah al-Alaq ayat 1-5

اقرأ باسم ربك الذي خلق . خلق الانسان من علق . اقرأ و ربك الأكرم . الذي علم بالقلم . علم الانسان ما لم يعلم .
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Kata Iqra’ pada ayat awal ayat pertama memiliki ma’na perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk membaca, sedangkan obyek yang di baca bermacam-macam, bisa ayat – ayat Allah yang tertulis dalam Alqur’an itu sendiri, dan dapat pula ayat-ayat Allah yang tidak tertulis, seperti yang terdapat pada alam jagat raya dengan segala hukum kausalitas yang ada di dalamnya, dan pada diri manusia. Berbagai ayat tersebut  jika dibaca dalam arti di tela’ah, di observasi, diidentifikasi, dikatagorisasi, dibandingkan, dianalisa dan disimpulkan dapat menghasilkan ilmu pengetahuan.[12]

Membaca ayat-ayat Allah yang ada dalam Al-qur’an dapat menghasilkan ilmu agama seperti Fiqih, Tauhid, Akhlak dan sebagainya. Sedangkan membaca ayat-ayat Allah yang ada di jagat raya dapat menghasilkan sains seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, geologi, botani dan sebagainya. Selanjutnya jika membaca ayat-ayat Allah yang ada dalam diri manusia dari segi fisiknya mengahasilkan sains seperti ilmu kedokteran dan ilmu tentang raga, dan dari segi tingkah lakunya menghasilkan ilmu ekonomi, ilmu politik, sosiologi, antropologi, dari segi kejiwaannya menghasilkan ilmu psikologi. Dengan demikian karena obyek ontologi seluruh ilmu tersebut adalah ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya ilmu itu pada hakekatnya milik Allah, dan harus diabdikan untuk Allah. Manusia hanya menemukan dan memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut. Pemanfaatan ilmu-ilmu tersebut harus ditujukan untuk mengenal, mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah SWT. Dengan demikian ayat pertama surat al-Alaq ini terkait erat dengan obyek, sasaran, dan tujuan pendidikan.[13]

            Jika Ayat-ayat pada surat al-Alaq diatas di pikir secara filosofis, maka menghasilkan  penjelasan tentang konsep dasar dalam pendidikan Islam. Ada beberapa poin penting yang berkaitan dengan pendidikan Islam dalam ayat-ayat ini, pertama kalimat Iqra’ artinya bacalah (belajarlah), kalimat ini berisi perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk membaca (murid). Kedua kalimat allama yang berarti Allah mengajar (guru). Ketiga bil qolam yang berarti Allah mengajar dengan baca tulis[14] (media). Keempat allamal insana yang berarti Allah mengajar manusia (proses). Ke lima ma lam ya’lam yang berarti apa yang tidak diketahuinya (materi). pokok  keislamannya terdapat pada kalimat bismi Robbika alladzi kholaq (visi).
            Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa ayat 1-5 dalam surat al-Alaq merupakan dalil tentang dasar dari pendidikan Islam.

2.    Dalil tentang Tujuan Pendidikan Islam
Ada beberapa ayat yang mengandung tujuan pendidikan islam, antara lain:[15]
a.  Surah al-Baqarah ayat 1-5
الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّارَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.  وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ. الئك على هدا من ربهم و الئك هم المفلحون.
Alif laam miim.Kitab (al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi rnereka yang bertaqwa,(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki, yang Kami anugerahkan kepada mereka.  Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu; serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan rnerekalah orang-orang yang beruntung.
Syarh dan Tafsir singkat
1)    Orang yang bertakwa adalah orang yang mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima petunjuk Ciri orang yang bertaqwa: mengimani yang ghaib, mendirikan shalat, serta menafkahkan sebagian rezeki.
2)    Yuqinun (yakin) adalah pengetahuan yang mantap tentang sesuatu dibarengi dengan tersingkirnya keraguan maupun dalih-dalih yang dikemukakan lawan. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
                        Dari hal diatas dapat dipahami bahwa surah al-baqarah ayat 1-5 kalaulah dikaitkan dengan tujuan pendidikan sebagai berikut :
a)         Mewujudkan manusia yang taqwa dan banyak beramal shaleh
b)         Agar manusia mempercayai akan keberadaan Allah
c)         Mewujudkan manusia yang percaya akan hari akhir
d)        Mewujudkan kesuksesan dalam hidup.
b.    Surah al-Hajj ayat 41
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِوَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ


“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan Zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan “.
Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:
1)   Mewujudkan seorang yang selalu menegakkan kebenaran dan mencegah kemunkaran.
2)   Mewujudkan manusia yang selalu bertawakkal pada Allah
C.    Kejelasan Manfaat Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Dasar pendidikan islam adalah identik dengan dasar ajaran islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu al-Qur’an dan hadits.kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk qiyassyar’i, ijma’ yang diakui, serta ijtihad dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu tentang jagat raya, manusia, masyarakat dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan dan akhlak dengan merujuk kepada kedua sumber asal. (Al-Syaibani : 1979)
Menjadikan al-Qur’an dan hadist sebagai dasar pemikiran dalam membina sistem pendidikan, bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan kepada keyakinan semata.Lebih jauh kebenaran itu juga sejalan dengan kebenaran yang dapat diterima oleh nalar dan bukti sejarah, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Dengan demikian barangkali wajar jika kebenaran itu kita kembalikan pada pembuktian akan kebenaran pernyataan Firman Allah :
ذلك الكتاب لا ريب فيه هـدا للمتقين
       “ Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi mereka yang taqwa.” (QS.2:2)
       Kebenaran yang dikemukakanNya mengandung kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran yang spekulatif, lestari dan tidak bersifat tentatif (sementara). Kebenaran yang seperti itu pula yang dijadikan dasar pemikiran dalam membina sistem pendidikan islam.
Berbeda dengan kebenaran yang dibuat oleh hasil pemikiran manusia.Kebenaran produk nalar manusia, sebagaimanapun terbatas oleh ruang dan waktu.Selain itu, pemikiran tersebut mengandung muatan subyektivitas, sesuai dengan sudut pandang masing-masing.Adanya kedua faktor ini, mendorong hasil pemikiran para ahli pendidikan untuk membuahkan konsep pendidikan yang sesuai dengan pandangan hidup masing-masing.[16]
Adapun tujuan pendidikan islam yang sejalan dengan tujuan missi islam itu sendiri adalah mempertinggi nilai akhlak, hingga mencapai tingkat akhlaqu al-kari>mah.[17] Akhlak dalam agama islam adalah suatu ilmu yang dipelajari didalamnya tingkah laku manusia, atau sikap hidup (the human conduct) dalam pergaulan hidup.[18]
Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan, yang dalam pandangan islam berfungsi untuk menyiapkan manusia yang mampu menata kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat.
Dua sasaran pokok yang akan dicapai oleh pendidikan islam, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat, memiliki peran yang penting. Nilai tersebut terlihat bahwa sistem pendidikan islam dirancang agar dapat merangkum tujuan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang tunduk pada hakikat penciptaanNya, yaitu :
1.    Tujuan pendidikan islam itu bersifat fitrah, yaitu membimbing perkembangan manusi sejalan dengan fitrah kejadiannya.
2.    Tujuan pendidikan islam merentang dua dimensi, yaitu tujuan akhir bagi keselamatan hidup di dunia dan di akhirat
3.    Tujaun pendidikan islam mengandung nilai-nilai yang bersifat universal yang tak terbatas oleh ruang lingkup geografis atau paham-paham tertentu.[19]
       Tujuan akhir ini hanya akan mungkin dicapai setelah tahap sebelumnya dapat diterapkan, yaitu menempatkan manusia dalam kehidupannya sebagai pengabdi Allah yang setia, melalui tahap penempatan dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi sesuai dengan fitrah kejadiannya. 
Hal inilah yang memberikan nilai lebih bagi pendidikan islam dibandingkan dengan pendidikan umum, yang didasarkan pada falsafat pendidikan produk pemikiran spekulatif dari nalar manusia. Seperti Langveld yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan agar anak terbentuk kata hatinya (Crin dan Reksosiswojo : 1954)
Betapapun besarnya kesungguhan yang telah dilakukan, sistem pendidikan yang dirancang atas dasar falsafat pendidikan yang didasarkan pemikiran spekulatif, tak terlepas dari sejumlah kerapuhan. Bebrapa kelemahan yang tampak bahwa hasil perenungan nalar manusia melalui kemampuan nalar sangat terbatas, yaitu :
1.    Pemikiran tersebut hanya dapat menjangkau kepentingan tujuan yang bersifat semasa dan untuk kelompok tertentu.
2.    Hasil pemikiran terbatas pada tujuan yang berjangka pendek, yaitu untuk kepentingan hidup di dunia.[20]
D.    Rumusan Pemikir Islam tentang Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
1.    Ibnu Sina
Abu Ali Husein Ibn Abdullah Ibn Sina lahir di Bukhara tahun 370 H/ 980 M. Ia dianggap sebagai orang yang cerdas, karena dalam usia yang sangat muda (17 tahun) Ibn Sina telah dikenal sebagai filosof dan dokter terkemuka di Bukhara.
Adapun pemikiran Ibn Sina yang berkaitan dengan pendidikan adalah pemikirannya tentang filsafat ilmu.Diantaranya adalah, Ibnu Sina membagi ilmu menjadi dua, yaitu ilmu yang tak kekal dan ilmu yang kekal (hikmah).
Ibnu Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan (sa’a>dat).Kebahagiaan ini dicapai secara bertingkat, sesuai dengan tingkat pendidikan yang dikemukakannya, yaitu kehidupan pribadi, kebahagiaan rumah tangga, kebahagiaan masyarakat, kebahagiaan manusia secara menyeluruh, dan kebahagiaan yanga akhir adalah kebahagiaan manusia di alam akhirat.[21]
2.    Al-Ghazali
Imam al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Al-Ghazali termasuk ke dalam kelompok sufistik yang banyak menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya.[22]
Dalam masalah pendidikan, al-Ghazali lebih cenderung berpaham empirisme.Hal  ini antara lain disebabkan karena ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik.
Tujuan pendidikan menurutr al-Ghazali adalah untuk mendapatkan diri kepada Allah SWT bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan, dan kegagahan, atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang.
Rumusan tujuan pendidikan al-Ghazali itu juga karena dia memandang dunia ini bukan merupakan hal pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatannya setiap saat.lebih lanjut, al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga orang tersebut derajatnya lebih tinggi disisi Allah dan lebih luas kebahagiaannya di akhirat. Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan ini tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan dunia itu hanya sebagai alat[23]. Hal ini dipahami al-Ghazali berdasar pada isyarat al-Qur’an :
و ما الحـياة الدنيا الا متـاع الغـرور
“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Q.S. al-Hadid :20)
3.    Ibnu Khaldun
Sebuah ciri khas yang melatarbelakangi kehidupan Ibnu Khaldun adalah ia berasal dari keluarga politis, intelektual, dan aristrokrat. Ibnu Khaldun memandang bahwa manusia adalah makhluk yang berbeda dengan makhluk lainnya, karena mausia adalah makhluk berpikir. Leat kemampuan berpikirnya itu, manusi tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses-proses inilah yang melahirkan peradaban.
Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah untuk menanamkan keimanan dalam hati anak didik, menginternalisasikan nilai-nilai moral, sehingga mampu memberikan pencerahan jiwa dan perilaku yang baik.[24]
Menurut Ibnu Khaldun, tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal, diantaranya yaitu :
a)    Tujuan peningkatan pemikiran. Ibnu Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan pendidikan adlaah memeberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dan melakukan aktifitas.
b)   Tujuan peningkatan bagi masyarakat. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ilmu dan pengajaran adalah lumrah peradaban manusia
c)    Tujuan pendidikan dari segi keruhanian. Ibnu Khaldun memandang pendidkan sebagai investasi masa depan dan memiliki keterkaitan dengan pekerjaan, di samping tentu saja pembentukan kepribadian dan pembimbing menuju berpikir dan berbuat yang benar. [25]



BAB III
KESIMPULAN

       Pengrtian dasar tentang pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain, agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam
Tujuan pendidikan Islam adalah  mencetak pribadi-pribadi unggul dalam bidang IPTEK dan IMTAQ, mampu mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi Manusia Paripurna (Insan Kamil), yang selalu konsisten pada Dzikir, Fikir, Amal Sholeh dan seimbang antara Hablun Minallah maupun Hablun Minannas.
Ibnu Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan (sa’a>dat).Kebahagiaan ini dicapai secara bertingkat, sesuai dengan tingkat pendidikan yang dikemukakannya, yaitu kehidupan pribadi, kebahagiaan rumah tangga, kebahagiaan masyarakat, kebahagiaan manusia secara menyeluruh, dan kebahagiaan yanga akhir adalah kebahagiaan manusia di alam akhirat.
Tujuan pendidikan menurutr al-Ghazali adalah untuk mendapatkan diri kepada Allah SWT bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan, dan kegagahan, atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang.
Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun adalah untuk menanamkan keimanan dalam hati anak didik, menginternalisasikan nilai-nilai moral, sehingga mampu memberikan pencerahan jiwa dan perilaku yang baik



DAFTAR PUSTAKA
Al-Ahwani,  Ahmad Fuad, al-Tarbiyahfi al-Islam, Mesir, Dar el-Misriyah.                Ahid, Nur, Pendidikan keluarga dalam perspektif Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. 2010                                                                                                                  Chasanah, Uswatun (Tim Penulis), Antologi Kajian Islam, Surabaya: pascasarjana IAIN Sunan Ampel Press. 2012
Djaelani, Timurdan Fatawi, M. Marsekan.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta. 1988
Jalaluddin dan Said, Usman.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: PT. Raja Grafindo.  1994
Nata, Abudin.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta :Logos Wacana Ilmu. 1997
Al-Syaibani, Moh.Omar Mohammad al-Toumy.Falsafah Pendidikan Islam.Jakarta : PT. Bulan Bintang. 1979                                                                                    Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam,Bandung. PT Remaja Rosdakarya. 1991
Tim Dosen fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim. Pendidikan Islam dai Paradigma Klasik Hingga Kontemporer. Malang : 2009



[1] Uswatun Chasanah (Tim Penulis), Antologi Kajian Islam (Surabaya: pascasarjana IAIN Sunan Ampel Press, 2012), hal 146
[2] Ibid, 146
[3] Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam (Bandung :PT Remaja Rosdakarya, 1991), hal 24
[4] Dr. Nur Ahid. M.Ag, Pendidikan keluarga dalam perspektif Islam (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010) hal 10
[5] Ibid. Hal 11
[6] Ibid. Hal 12
[7] Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, op cit, hal 32
[8] M. Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam (Tripoli, Libya 1975) hal 399
[9] Ibid. Hal 417
[10] Ibid. Hal  419
[11] Dr. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, op cit, hal 50
[12] A. Baiquni, Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern, (Bandung:Mizan, 1988), cet.1, hal 34
[13] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2001), hal 44
[14] Keterangan ini di kutip dari buku tafsir al-usyr al-akhir (Riyadh)
[15] http///google.com., contoh ayat-ayat pendidikan, htm di akses pada tgl 10 oktober 2013
[16] Dr. Jalaluddin dan Drs. Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:1994), hal. 37-38
[17] Prof. Dr. Moh. Omar Mohammad al-Toumy Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta : 1979), hal. 311
[18] Prof. H.A.  Timur Djaelani, M.A. dan Drs. M. Marsekan Fatawi, Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta:1988), hal. 51
[19]Dr. Jalaluddin dan Drs. Usman Said, Op.cit, hal. 39
[20]Ibid, hal. 40
[21]Ibid, hal. 136-137
[22]Ahmad Fuad al-Ahwani, al-Tarbiyahfi al-Islam, Mesir, Dar el-Misriyah, hal. 87
[23] Drs.H. Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : 1997), hal. 163
[24] Tim Dosen fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim,  Pendidikan Islam dai Paradigma Klasik Hingga Kontemporer,(Malang : 2009)hal.247
[25]Ibid. hal. 248
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar