Cinta dalam pesantren
Amir adalah anak pertama dari pasutri shodiq dengan maisaroh,
mereka hidup di sebuah kampung terpencil yang indah dan jauh dari keramaian
kota. Di kampung tersebut ada sebuah tradisi unik, yakni ketika seseorang
mempunyai anak yang sudah masuk usia baligh maka orang tua harus memondokkan
anaknya di sebuah pesantren. Demikian juga yang berlaku dengan keluarga amir.
Setelah amir tamat dari SLTP, ayahnya menyuruh putra kesayangannya tersebut
untuk mondok di sebuah pesantren, amirpun mengikuti semua kemauan ayahnya.
Sebelum berangkat ayah amir berpesan kepada
amir agar tekun dalam belajar dan harus sabar menghadapi coba’an, terutama
rayuan seorang perempuan. “ingat nak tujuan kamu mondok hanya satu yakni
mencari ilmu, maka belajarlah dengan tekun dan jangan pernah melanggar larangan
pesantren, terutama berhubungan dengan lawan jenis/pacaran, percayalah bahwa
kalau kamu mengikuti semua saran ayah, kamu insya Allah akan sukses dan menjadi
orang besar” inilah nasehat dari ayah amir. Kata-kata nasehat dari sang ayah
terpatri dalam hati amir, amir menjawab “baik ayah! insya Allah aku akan selalu
ingat dan ta’at terhadap perintah ayah, jangan lupa do’akan aku agar aku
menjadi anak yang berbakti kepada orang tua”. Pada hari yang telah di tentukan mereka sekeluarga pun berangkat ke
sebuah pesantren yang di maksud dan mulai hari itulah amir resmi menjadi santri
di pesantren tersebut.
Di pesantren amir bersahabat dengan mizan, seorang santri yang
lebih dulu mondok dari amir. Persahabatan mereka semakin erat, sehingga saling
curhat tentang masalah pribadi sudah menjadi biasa. Suatu hari mizan memberi
tahu amir bahwa dia cinta kepada seorang santri putri yang masih duduk di kelas
dua MTs bernama fika. Pagi, siang, sore, malam mizan selalu menyebut namanya,
amir sangat heran kenapa sampai segitunya cinta mizan kepada fika. Ketika
ditanya oleh amir kenapa selalu menyebut nama fika, mizan pun menjawab “Man
ahabba syai’an aktsara min dzikrihi” (barangsiapa yang cinta kepada sesuatu
maka dia akan selalu menyebutnya) celetuknya.
Suatu hari seperti biasa kegiatan belajar mengajar berjalan aktif, pada jam 09.00 bel berbunyi pertanda jam
istirahat. Amir dan mizan duduk-duduk di depan kamarnya sambil melihat
siswa-siswi yang keluar dari kelasnya, kedua anak ini memandang ke kelas dua MTs, mereka berharap bisa melihat fika. Amir melihat karena penasaran seperti
siapakah yang namanya fika yang selalu menjadi buah bibir mizan. Sedangkan
mizan melihat karena sudah sangat rindu kepadanya dan memang mizan ingin
menunjukkan wajah cantik fika kepada amir.
Tiba-tiba lewatlah dua santri putri yang tak lain adalah fika dan
fatimah dua orang sahabat sejak MI. Karena penasaran amir bertanya kepada
keduanya yang manakah yang bernama fika ? tanpa menjawab keduanya tersenyum
kepada amir. Sedangkan mizan hanya diam ketika keduanya lewat. Keesokan harinya
tersebarlah kabar di pesantren putri bahwasanya ada santri putra baru yang
bernama amir jatuh cinta kepada fika, walaupun sebenarnya tidak demikian, sebenarnya
amir bertanya karena dia penasaran dengan yang namanya fika, karena sahabatnya
“mizan” sangat mencintainya, akan tetapi fika menganggap bahwa amir cinta
kepadanya dan dia pun rupanya mempunyai perasaan yang sama kepada amir.
Semua santri mengetahui hal tersebut dan mereka sangat mendukung
kelanjutan hubungan antara amir dengan fika, hanya satu orang yang sangat tidak
senang dengan hubungan mereka , dia adalah sahabat amir sendiri yakni mizan.
Jelas mizan tidak akan setuju dengan hubungan mereka karena fika adalah gadis
dambaan mizan, bahkan mizan menganggap amir merebut fika darinya. Sejak saat
itulah hubungan persahabatan antara amir dengan mizan kian renggang. Ketika
amir tersenyum melihat mizan, mizan membalasnya dengan muka yang muram. Amir
bingung apa yang terjadi pada mizan karena amir tidak tahu apa yang telah
terjadi atas dirinya dan sahabatnya.
Suatu hari mizan menulis sebuah surat cinta, surat itu ditujukan ke
fatimah atas nama amir. Menerima surat itu fatimah sangat bergembira karena
fatimah diam-diam suka kepada amir, namun dia tidak tahu bahwa yang menulis surat itu bukan amir tapi
mizan yang mengatasnamakan amir. Dengan spontan fatimah menulis surat balasan kepada amir, dalam suratnya
fatimah menerima cinta amir. Ketika surat balasan dari fatimah sampai di tangan
amir, amir kaget dan bingung “perasaan aku gak pernah ngirim surat cinta ke
fatimah, dan aku juga lupa yang mana yang namanya fatimah” gumam amir. Tak lama
kemudian mizan muncul dan berkata kepada amir, “sudah jadian aja sama fatimah
dah mir” rayu mizan. Setelah itu amir paham bahwa yang menulis surat pertama
kali ke fatimah adalah mizan yang mengatasnamakan dirinya, tujuannya agar amir
jadian dengan fatimah, dengan demikian mizan tidak akan menemukan hambatan
ketika PDKT kepada fika.” Jadi kamu yang ngirim surat ke fatimah yang mengatas
namakan aku?” tanya amir. Ia aku yang membuat surat itu, aku lihat kalian cocok,
jadi menurutku kalian jadian aja. Dengan perasaan agak marah amir pergi
meninggalkan mizan yang tak lain adalah sahabatnya itu.
Hari berikutnya amir minta pendapat kepada salah satu temannya
yakni akbar, “bagaimana pendapatmu bar? Baiknya aku jadian sama fatimah atau
fika?” tanya amir “lho sebenarnya yang
kamu suka dari mereka siapa?” akbar balik bertanya. “Untuk sementara ini belum
ada yang aku suka, karena sampai detik ini aku tidak tahu dengan jelas wajah
mereka, menurutmu siapa yang pantas untukku?” tanya amir lagi “ kalau fika
orangnya cantik, pintar, taat, pokoknya perfec banget dech. Kalau fatimah
biasa-biasa aja, jadi menurutku lebih baik pilih fika aja”jawab akbar.
Amir masih ragu, namun akhirnya dia membuat keputusan untuk tidak
akan menjalin hubungan dengan siapapun, dia teringat tujuan awal dirinya mondok
yang tak lain adalah untuk menimba ilmu agama demi bekal di masa depannya, dan dia teringat akan pesan ayahnya
ketika dia akan berangkat mondok. Akhirnya
dia membalas surat dari fatimah.
Demikian isi suratnya :
Assalamu’alaikum Wr Wb
Dengan menyebut asma Allah saya mulai surat ini. Ukhti fatimah yang
sangat saya hormati, awal aku menerima surat dari ukhti aku kaget karena aku
tak merasa pernah menulis surat cinta
kepada ukhti, namun setelah aku telusuri yang menulis surat itu adalah mizan,
dia menulis surat cinta kepada ukhti atas namaku karena mizan merasa aku telah
merebut fika darinya dan agar aku bisa jadian dengan ukhti dan mizan akan
jadian dengan fika. Jadi semua ini adalah sebuah salah faham. Mohon ma’af
sebenarnya aku tidak mencintai ukhti begitu pula dengan fika. Aku santri baru
di pondok ini jadi mana mungkin aku
langsung jatuh cinta pada seorang santri putri. Perlu diketahui juga tujuan aku
mondok di pesantren ini tak lain adalah untuk menimba ilmu agama demi bekalku
di masa mendatang. Jadi sekali lagi aku mohon ma’af kalau telah membuat ukhti kecewa.
Terimakasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum.
Keesokan
harinya............
Seisi pesantren menjadi heboh karena amir dianggap playboy kelas
kakap, suka mempermainkan wanita, awalnya cinta kepada fika kemudian nemba’
fatimah dan sekarang mutusin keduanya, kabar inilah yang tersebar di seluruh pesantren.
Semua santri putra bersikap seperti biasa
kepada Amir, namun tidak demikian dengan santri putri, terutama Fatimah. Dia
sangat kecewa kepada Amir, meskipun Amir sendiri tidak bersalah. Amir bersikap
seperti biasa, malah dia tambah semangat dalam belajar, dia tidak mau tahu
tentang fika dan Fatimah, karena mereka dia anggap sebagai teman saja, tidak lebih.
Melihat kenyataan itu, amir pasrah saja,
dia tidak menghiraukan pendapat orang lain atas dirinya. Amir semakin rajin
belajar dan terus semangat sehingga prestasi demi prestasi bisa dia raih dan
beberapa tahun kemudian setelah pulang ke masyarakat amir menjadi seorang da’i,
motivator dan ustad. Ketika berusia 25 tahun amir menikah dengan Aisyah putri
seorang kiai yang mempunyai pesantren yang letaknya jauh dari rumah amir, dia
pun dipercaya menjadi kepala sekolah di lembaga yang ada di pesantren tersebut.
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar