Senin, 29 Desember 2014

Cerpen Islami


Cinta dalam pesantren

Amir adalah anak pertama dari pasutri shodiq dengan maisaroh, mereka hidup di sebuah kampung terpencil yang indah dan jauh dari keramaian kota. Di kampung tersebut ada sebuah tradisi unik, yakni ketika seseorang mempunyai anak yang sudah masuk usia baligh maka orang tua harus memondokkan anaknya di sebuah pesantren. Demikian juga yang berlaku dengan keluarga amir. Setelah amir tamat dari SLTP, ayahnya menyuruh putra kesayangannya tersebut untuk mondok di sebuah pesantren, amirpun mengikuti semua kemauan ayahnya. 


Sebelum berangkat ayah amir berpesan kepada amir agar tekun dalam belajar dan harus sabar menghadapi coba’an, terutama rayuan seorang perempuan. “ingat nak tujuan kamu mondok hanya satu yakni mencari ilmu, maka belajarlah dengan tekun dan jangan pernah melanggar larangan pesantren, terutama berhubungan dengan lawan jenis/pacaran, percayalah bahwa kalau kamu mengikuti semua saran ayah, kamu insya Allah akan sukses dan menjadi orang besar” inilah nasehat dari ayah amir. Kata-kata nasehat dari sang ayah terpatri dalam hati amir, amir menjawab “baik ayah! insya Allah aku akan selalu ingat dan ta’at terhadap perintah ayah, jangan lupa do’akan aku agar aku menjadi anak yang berbakti kepada orang tua”. Pada hari yang telah di tentukan mereka sekeluarga pun berangkat ke sebuah pesantren yang di maksud dan mulai hari itulah amir resmi menjadi santri di pesantren tersebut.   

Di pesantren amir bersahabat dengan mizan, seorang santri yang lebih dulu mondok dari amir. Persahabatan mereka semakin erat, sehingga saling curhat tentang masalah pribadi sudah menjadi biasa. Suatu hari mizan memberi tahu amir bahwa dia cinta kepada seorang santri putri yang masih duduk di kelas dua MTs bernama fika. Pagi, siang, sore, malam mizan selalu menyebut namanya, amir sangat heran kenapa sampai segitunya cinta mizan kepada fika. Ketika ditanya oleh amir kenapa selalu menyebut nama fika, mizan pun menjawab “Man ahabba syai’an aktsara min dzikrihi” (barangsiapa yang cinta kepada sesuatu maka dia akan selalu menyebutnya) celetuknya. 

Suatu hari seperti biasa kegiatan belajar mengajar berjalan aktif,  pada jam 09.00 bel berbunyi pertanda jam istirahat. Amir dan mizan duduk-duduk di depan kamarnya sambil melihat siswa-siswi yang keluar dari kelasnya, kedua anak ini memandang ke kelas  dua MTs, mereka berharap bisa melihat  fika. Amir melihat karena penasaran seperti siapakah yang namanya fika yang selalu menjadi buah bibir mizan. Sedangkan mizan melihat karena sudah sangat rindu kepadanya dan memang mizan ingin menunjukkan wajah cantik fika kepada amir. 

Tiba-tiba lewatlah dua santri putri yang tak lain adalah fika dan fatimah dua orang sahabat sejak MI. Karena penasaran amir bertanya kepada keduanya yang manakah yang bernama fika ? tanpa menjawab keduanya tersenyum kepada amir. Sedangkan mizan hanya diam ketika keduanya lewat. Keesokan harinya tersebarlah kabar di pesantren putri bahwasanya ada santri putra baru yang bernama amir jatuh cinta kepada fika, walaupun sebenarnya tidak demikian, sebenarnya amir bertanya karena dia penasaran dengan yang namanya fika, karena sahabatnya “mizan” sangat mencintainya, akan tetapi fika menganggap bahwa amir cinta kepadanya dan dia pun rupanya mempunyai perasaan yang sama kepada amir. 

Semua santri mengetahui hal tersebut dan mereka sangat mendukung kelanjutan hubungan antara amir dengan fika, hanya satu orang yang sangat tidak senang dengan hubungan mereka , dia adalah sahabat amir sendiri yakni mizan. Jelas mizan tidak akan setuju dengan hubungan mereka karena fika adalah gadis dambaan mizan, bahkan mizan menganggap amir merebut fika darinya. Sejak saat itulah hubungan persahabatan antara amir dengan mizan kian renggang. Ketika amir tersenyum melihat mizan, mizan membalasnya dengan muka yang muram. Amir bingung apa yang terjadi pada mizan karena amir tidak tahu apa yang telah terjadi atas dirinya dan sahabatnya. 

Suatu hari mizan menulis sebuah surat cinta, surat itu ditujukan ke fatimah atas nama amir. Menerima surat itu fatimah sangat bergembira karena fatimah diam-diam suka kepada amir, namun dia tidak tahu  bahwa yang menulis surat itu bukan amir tapi mizan yang mengatasnamakan amir. Dengan spontan fatimah menulis  surat balasan kepada amir, dalam suratnya fatimah menerima cinta amir. Ketika surat balasan dari fatimah sampai di tangan amir, amir kaget dan bingung “perasaan aku gak pernah ngirim surat cinta ke fatimah, dan aku juga lupa yang mana yang namanya fatimah” gumam amir. Tak lama kemudian mizan muncul dan berkata kepada amir, “sudah jadian aja sama fatimah dah mir” rayu mizan. Setelah itu amir paham bahwa yang menulis surat pertama kali ke fatimah adalah mizan yang mengatasnamakan dirinya, tujuannya agar amir jadian dengan fatimah, dengan demikian mizan tidak akan menemukan hambatan ketika PDKT kepada fika.” Jadi kamu yang ngirim surat ke fatimah yang mengatas namakan aku?” tanya amir. Ia aku yang membuat surat itu, aku lihat kalian cocok, jadi menurutku kalian jadian aja. Dengan perasaan agak marah amir pergi meninggalkan mizan yang tak lain adalah sahabatnya itu. 

Hari berikutnya amir minta pendapat kepada salah satu temannya yakni akbar, “bagaimana pendapatmu bar? Baiknya aku jadian sama fatimah atau fika?” tanya amir  “lho sebenarnya yang kamu suka dari mereka siapa?” akbar balik bertanya. “Untuk sementara ini belum ada yang aku suka, karena sampai detik ini aku tidak tahu dengan jelas wajah mereka, menurutmu siapa yang pantas untukku?” tanya amir lagi “ kalau fika orangnya cantik, pintar, taat, pokoknya perfec banget dech. Kalau fatimah biasa-biasa aja, jadi menurutku lebih baik pilih fika aja”jawab akbar.

Amir masih ragu, namun akhirnya dia membuat keputusan untuk tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun, dia teringat tujuan awal dirinya mondok yang tak lain adalah untuk menimba ilmu agama demi bekal di masa depannya, dan dia teringat akan pesan ayahnya ketika dia akan berangkat mondok. Akhirnya dia membalas  surat dari fatimah. Demikian isi suratnya :


 Assalamu’alaikum Wr Wb
Dengan menyebut asma Allah saya mulai surat ini. Ukhti fatimah yang sangat saya hormati, awal aku menerima surat dari ukhti aku kaget karena aku tak merasa pernah menulis  surat cinta kepada ukhti, namun setelah aku telusuri yang menulis surat itu adalah mizan, dia menulis surat cinta kepada ukhti atas namaku karena mizan merasa aku telah merebut fika darinya dan agar aku bisa jadian dengan ukhti dan mizan akan jadian dengan fika. Jadi semua ini adalah sebuah salah faham. Mohon ma’af sebenarnya aku tidak mencintai ukhti begitu pula dengan fika. Aku santri baru di pondok ini jadi mana mungkin aku langsung jatuh cinta pada seorang santri putri. Perlu diketahui juga tujuan aku mondok di pesantren ini tak lain adalah untuk menimba ilmu agama demi bekalku di masa mendatang. Jadi sekali lagi aku mohon ma’af kalau telah membuat ukhti kecewa. Terimakasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum.
Keesokan harinya............

Seisi pesantren menjadi heboh karena amir dianggap playboy kelas kakap, suka mempermainkan wanita, awalnya cinta kepada fika kemudian nemba’ fatimah dan sekarang mutusin keduanya, kabar inilah yang tersebar  di seluruh pesantren. 

Semua santri putra bersikap seperti biasa kepada Amir, namun tidak demikian dengan santri putri, terutama Fatimah. Dia sangat kecewa kepada Amir, meskipun Amir sendiri tidak bersalah. Amir bersikap seperti biasa, malah dia tambah semangat dalam belajar, dia tidak mau tahu tentang fika dan Fatimah, karena mereka dia anggap sebagai teman saja, tidak lebih.  

Melihat kenyataan itu, amir pasrah saja, dia tidak menghiraukan pendapat orang lain atas dirinya. Amir semakin rajin belajar dan terus semangat sehingga prestasi demi prestasi bisa dia raih dan beberapa tahun kemudian setelah pulang ke masyarakat amir menjadi seorang da’i, motivator dan ustad. Ketika berusia 25 tahun amir menikah dengan Aisyah putri seorang kiai yang mempunyai pesantren yang letaknya jauh dari rumah amir, dia pun dipercaya menjadi kepala sekolah di lembaga yang ada di pesantren tersebut.  

Sekian
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar